JAKARTA - Pengiriman ponsel pintar global turun 6% secara tahunan (YoY) menjadi 272,0 juta unit pada kuartal kedua tahun 2026, menurut laporan analis teknologi Omdia. Penurunan ini merupakan dampak dari melonjaknya harga memori yang turut menaikkan harga ponsel.
Menurut laporan Omdia, penurunan ini terjadi setelah lonjakan permintaan di awal tahun (pada kuartal pertama 2026) yang kemudian beralih ke fase penyesuaian dalam siklus biaya memori. Harga memori yang terus tinggi mengganggu pasokan, meningkatkan biaya komponen, serta memaksa para vendor untuk meninjau kembali strategi penetapan harga, portofolio produk, dan strategi saluran distribusi mereka.
Hasilnya adalah pasar yang terpolarisasi secara tajam, di mana kinerja vendor semakin ditentukan oleh skala usaha, ketahanan rantai pasok, kemampuan menentukan harga (pricing power), serta keterpaparan terhadap pasar ponsel pintar kelas pemula (entry-level).
Paruh pertama tahun 2026 menandai dimulainya penyesuaian ulang yang didorong oleh faktor pasokan dalam industri ponsel pintar. Kenaikan biaya memori, penyimpanan, dan prosesor aplikasi yang terus-menerus secara mendasar mengubah prioritas vendor, mengalihkan fokus industri dari upaya memaksimalkan volume pengiriman ke upaya menjaga margin dan harga jual rata-rata (ASP).
Para vendor beradaptasi dengan cepat melalui langkah-langkah seperti membebankan sebagian kenaikan biaya komponen kepada konsumen secara selektif, menerapkan disiplin yang lebih ketat pada portofolio segmen entry-level, serta mempercepat peralihan ke ponsel pintar kelas menengah dan premium; langkah-langkah ini membantu pendapatan industri tetap relatif stabil.
Gangguan di tingkat regional juga turut berkontribusi pada melemahnya kinerja pasar. Di Timur Tengah, pengiriman ponsel pintar turun 18% secara tahunan (year-on-year) akibat meningkatnya ketegangan geopolitik yang mengganggu rantai pasok, aktivitas ritel, dan permintaan konsumen. Namun, berbeda dengan tekanan biaya yang terus berlanjut, Omdia memperkirakan gangguan regional ini bersifat sementara, dengan kondisi pasar yang secara bertahap akan kembali stabil pada paruh kedua tahun 2026.
Yang tak kalah penting, harga yang lebih tinggi tidak hanya membebani permintaan dalam jangka pendek, tetapi juga telah mengubah ekspektasi harga konsumen. Seiring konsumen mulai terbiasa dengan harga ponsel pintar yang lebih tinggi, para vendor memiliki peluang lebih besar untuk menetapkan struktur harga yang secara fundamental lebih tinggi, yang pada gilirannya mendukung peningkatan ASP (harga jual rata-rata) dalam jangka panjang—melampaui siklus biaya memori saat ini. Hal ini menandai penyesuaian harga secara struktural di pasar ponsel pintar, di mana profitabilitas semakin diutamakan dibandingkan peningkatan volume penjualan.
"Harga kembali menjadi faktor pembeda dalam persaingan. Siklus biaya memori saat ini mendorong penyesuaian harga secara struktural di industri ini, menciptakan perubahan permanen dalam cara vendor bersaing terkait harga, profitabilitas, dan penentuan posisi produk," ujar Le Xuan Chiew, Manajer Riset di Omdia, sebagaimana dilansir Business Wire.
Meskipun tingkat inventaris di saluran distribusi sebagian besar telah kembali normal, tingginya biaya komponen diperkirakan akan terus menekan pasar ponsel pintar hingga akhir tahun 2026 dengan membatasi pasokan dan mempertahankan harga perangkat yang lebih tinggi. Walaupun laju penurunan pengiriman diperkirakan akan melambat setelah koreksi tajam pada kuartal kedua, pemulihan volume secara menyeluruh tampaknya belum akan terjadi hingga biaya komponen mulai menurun.
(Rahman Asmardika)