Peristiwa ini penting karena diharapkan dapat memajukan pemahaman manusia tentang kondisi Bulan.
Pengamatan kilatan cahaya, awan debu, gas, dan puing-puing batuan yang dihasilkan, serta kawah yang kemungkinan berukuran 16 hingga 18 meter dapat meningkatkan pengetahuan ilmiah tentang perilaku material Bulan di bawah tumbukan berkecepatan tinggi.
Meskipun gagasan tentang benda-benda eksternal yang menabrak permukaan Bulan bukanlah hal baru, peristiwa yang terkontrol atau dapat direkam dengan cermat seperti ini jarang terjadi di Bulan.
Salah satu contohnya adalah tabrakan yang disengaja pada tahun 2019 antara bagian atas roket dengan Bulan. NASA merekayasa tabrakan itu untuk memeriksa apakah percikan air akan "mengangkat es air" yang dapat diamati dari wahana antariksa lain.
Para ahli mengatakan pendaratan darurat benda buatan manusia berukuran sangat besar di permukaan Bulan menyoroti tantangan yang semakin besar terkait sampah antariksa.
Setiap perangkat keras yang ditinggalkan dan gagal memasuki kembali atmosfer Bumi – di mana ia secara alami terbakar menjadi partikel yang sangat kecil – dapat menjadi bahaya jangka panjang.
Kekhawatiran itu menjadi lebih relevan karena aktivitas manusia di dan dekat Bulan diperkirakan akan meningkat.