Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sejarah dan Mitologi Seputar Gerhana Matahari Total

Rahman Asmardika , Jurnalis-Kamis, 04 April 2024 |17:27 WIB
Sejarah dan Mitologi Seputar Gerhana Matahari Total
Foto: NASA.
A
A
A

JAKARTA Gerhana Matahari total (GMT) yang akan berlangsung pada 8 April 2024 merupakan momen yang ditunggu-tunggu, terutama bagi banyak orang di Amerika Utara yang tinggal di jalur totalitas dan dapat menyaksikan peristiwa ini secara langsung.  

Fenomena gerhana Matahari memang merupakan sebuah peristiwa yang memiliki daya tarik sepanjang sejarah manusia. Gerhana Matahari muncul dalam catatan sejarah dan mitologi di berbagai peradaban sejak ribuan tahun lalu. 

Sejarah gerhana Matahari

Dilansir KDVR, gerhana Matahari definitif tertua yang tercatat terjadi sekira 1200 SM, ketika juru tulis di Tiongkok mencatat gerhana pada tulang lembu dan cangkang kura-kura. Namun mungkin saja ada catatan lebih awal mengenai serangkaian petroglif berbentuk spiral dan melingkar yang ditemukan di Irlandia yang berasal dari 3340 SM. 

Catatan gerhana telah dicatat dalam petroglif yang dibuat oleh masyarakat Pueblo awal serta Maya, yang menyimpan banyak catatan tentang peristiwa astronomi. Teks agama juga menyebutkan gerhana, termasuk Alkitab dan Alquran, dan menghubungkannya dengan peristiwa penting. 

Gambaran bulan merah setelah penyaliban Yesus tampaknya menggambarkan gerhana bulan, dan dalam Al-Qur'an, gerhana Matahari dikatakan terjadi sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW. 

Mitologi Gerhana Matahari 

Meskipun orang-orang zaman dahulu mungkin belum memahami ilmu pengetahuan di balik gerhana seperti yang kita pahami di zaman modern, ada banyak penjelasan yang ditawarkan dalam mitos dan cerita rakyat.   

Bagi banyak kebudayaan kuno, gerhana Matahari adalah tanda malapetaka atau kehancuran. Orang Yunani kuno melihat gerhana Matahari sebagai pertanda para dewa sedang marah kepada raja. 

Kebudayaan lain memiliki legenda terkait dengan hilangnya tersebut, banyak yang menggambarkan dewa atau entitas lain menelan matahari untuk menjelaskan kegelapan yang tiba-tiba. 

 

Di Mesir kuno, ular Apep, roh jahat dan kekacauan, dikatakan menelan dewa Matahari Ra, sehingga membutuhkan pasukan dewa lain untuk melawan Apep dan membelahnya untuk melepaskan Ra dan mencegah dunia jatuh ke dalam kegelapan. 

Bangsa Viking percaya bahwa gerhana terjadi ketika serigala Skoll, yang mengejar dewi Matahari Sol melintasi langit, akhirnya menyusulnya. Jika Skoll berhasil menelan Sol dan menjerumuskan dunia ke dalam kegelapan, itu menandakan dimulainya Ragnarok, pertarungan antara para dewa dan akhir dunia. 

Dalam mitologi Hindu, pertarungan antara Surya, Matahari, dan setengah dewa Rahu yang berusaha mendapatkan keabadian. Dalam salah satu versi mitos, Rahu dipenggal atas usahanya dan kepalanya terus mengejar Surya, berusaha melahapnya. 

Di Tiongkok kuno, mitos menceritakan tentang seekor naga yang menelan Matahari, sedangkan mitos di Amerika Selatan menceritakan tentang macan tutul. Di Vietnam, ada katak raksasa yang menelan matahari, dan di Korea, sekawanan anjing. 

Satu kesamaan dari mitos-mitos ini adalah tanggapannya, yang mendesak orang-orang yang menyaksikan gerhana untuk menabuh genderang, menggedor panci dan wajan, atau membuat keributan besar untuk menakut-nakuti makhluk yang mencoba menelan cahaya tersebut. 

Namun, tidak semua penjelasan tentang gerhana bersifat negatif. Suku Tlingit di Amerika Utara percaya bahwa Matahari dan Bulan akan mempunyai lebih banyak anak, mengacu pada bintang dan planet yang tampak terlihat selama gerhana namun tidak dapat terlihat jika tidak. 

Di Afrika, masyarakat Battammaliba melihat gerhana sebagai Matahari dan Bulan yang sedang berkelahi dan menganggapnya sebagai tanda untuk mengesampingkan dendam dan mengakhiri perseteruan. 

Suku Inuit, Matahari dan Bulan adalah kakak beradik yang saling bertarung. Gerhana berarti Bulan, Annigan, telah menyusul Malina, Matahari. 

Di Suriname, suku Kalina juga percaya bahwa Matahari dan Bulan adalah saudara kandung yang sedang bertengkar dan gerhana berarti pertarungan tersebut menjadi sengit, dimana yang satu saling menjatuhkan. 

Dalam mitologi Jerman, Matahari dan Bulan menikah dan gerhana adalah momen bersatunya pasangan tersebut. Warga Tahiti punya mitos serupa, menceritakan tentang Matahari dan Bulan sepasang kekasih yang tersesat pada suatu momen. 

 

Mitos modern 

Meskipun mitos-mitos kuno berusaha menjelaskan gerhana tanpa memiliki pengetahuan ilmiah yang kita miliki saat ini, takhayul seputar fenomena tersebut masih ada. 

Takhayul modern seputar gerhana mencakup gagasan bahwa wanita hamil tidak boleh melihat gerhana, makanan tidak boleh dibuat saat gerhana, atau tidak aman berada di luar ruangan.  

Beberapa orang masih melihat gerhana sebagai tanda akhir zaman, termasuk mereka yang percaya bahwa hal itu akan membawa pada Hari Pengangkatan dan mereka yang berpikir hal itu akan menandai runtuhnya simulasi yang kita semua jalani. 

Namun, ada satu mitos gerhana yang masih benar adanya: Jangan melihat langsung ke matahari untuk melihat gerhana, karena mata Anda berisiko rusak. Pastikan untuk menggunakan kacamata gerhana sebagai gantinya. 

(Rahman Asmardika)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement