Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Terror Bird, Burung Predator Purba yang Sempat Jadi Puncak Rantai Makanan

Muhamad Fadli Ramadan , Jurnalis-Senin, 17 April 2023 |18:00 WIB
Mengenal Terror Bird, Burung Predator Purba yang Sempat Jadi Puncak Rantai Makanan
Mengenal Terror Bird, Burung Predator Purba yang Sempat Jadi Puncak Rantai Makanan
A
A
A

Para ilmuwan juga memiliki pandangan berbeda yang terbagi atas teori bahwa burung itu bisa jadi adalah pemakan bangkai. Mereka memiliki pola makan yang bervariasi yang terdiri dari hewan yang lebih kecil dari mereka.

Untuk habitat dari Terror Bird, pada Periode Miosen Awal hingga Pleistosen Tengah merupakan puncak kekuasaannya.

Ini terjadi sekitar 20 juta hingga sekitar 1,8 juta tahun yang lalu. Selama waktu ini, Amerika Selatan adalah benua yang terisolasi, dan Phorusrhacos berkuasa sebagai predator teratas selama jutaan tahun.

Banyak dari fosil Terror Bird ditemukan di Santa Cruz Formation di Provinsi Santa Cruz, Argentina. Padang rumput, gurun, dan stepa menjadi ciri wilayah tersebut pada saat itu, dan Terror Bird diyakini menyukai padang rumput dan hutan sebagai habitatnya.

Jangkauan mereka mungkin telah mencakup wilayah Patagonia di ujung paling selatan Amerika Selatan, yang sekarang mencakup sebagian Argentina dan Chili. Untuk waktu yang lama, Phorusrhacos adalah burung terbesar di benua Amerika Selatan yang terisolasi.

Namun, munculnya Isthmus of Panama (jembatan darat yang menghubungkan Amerika Selatan dan Utara) 2,7 juta tahun yang lalu memungkinkan harimau sabertooth dan predator besar lainnya bermigrasi ke Amerika Selatan, mengubah keseimbangan kekuatan di daerah tersebut.

Ahli paleontologi asal Argentina, Florentino menemukan fosil Phorusrhacos pertama pada tahun 1887. Genus pertama yang diketahui diidentifikasi adalah Phorusrhacos longissimus, dan deskripsinya didasarkan pada fragmen tulang rahang.

Awalnya, burung raksasa itu dianggap sebagai mamalia herbivora karena ukurannya yang masif. Pada 1891, penemuan fosil lain menegaskan bahwa penemuan awal adalah seekor burung raksasa, bukan mamalia.

Fosil lainnya ditemukan di berbagai tempat di Provinsi Santa Cruz, Argentina. Penemuan fosil yang terbaru di Comallo, Argentina, mengungkapkan informasi baru tentang bentuk tengkorak burung.

Penemuan itu menegaskan bahwa hewan ini memiliki rostrum bengkok yang lebih dari setengah panjang tengkorak lainnya. Temuan baru-baru ini juga menunjukkan bahwa burung itu mungkin bisa berlari lebih cepat dari perkiraan awal.

Spesies tersebut diyakini punah bersama dengan predator terkemuka lainnya yang berasal dari Amerika Selatan seperti Sparassodonts dan buaya terestrial Sebecid.

(DRA)

(Andera Wiyakintra)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement