"Ada beberapa proses otak yang diamati terjadi saat tidur," kata Dr. David Raizen, profesor neurologi di University of Pennsylvania.
"Ini termasuk sekresi hormon pertumbuhan pada manusia, pembersihan metabolit limbah yang menumpuk selama jam bangun, perubahan metabolisme, dan perubahan kekuatan komunikasi antara sel-sel otak (neuron), terangnya.
Sebuah studi tahun 2017 di jurnal Nature Medicine menemukan bahwa kurang tidur dapat mengganggu kemampuan sel-sel otak untuk berkomunikasi satu sama lain, yang menyebabkan penyimpangan mental sementara yang memengaruhi memori dan persepsi visual.
Penulis utama studi tersebut, Dr. Itzhak Fried yang merupakan seorang profesor di University of California, Los Angeles, mencatat bahwa tubuh yang kelaparan untuk tidur juga merampas kemampuan neuron untuk berfungsi dengan baik.
Ini adalah poin yang didukung oleh NINDS yang mengatakan tidur berkualitas sama pentingnya dengan kelangsungan hidup seperti makanan dan air. Tanpa tidur, manusia tidak dapat membentuk atau mempertahankan jalur di otak sehingga sulit untuk berkonsentrasi dan merespons dengan cepat.
"Ada banyak kondisi kesehatan buruk yang diamati yang berkorelasi dengan kurang tidur. Tetapi sulit untuk mengetahui apakah kurang tidur menyebabkan masalah ini. Misalnya, demensia yang sangat dini menyebabkan kurang tidur, bukan dan sebaliknya," kata Raizen.
Tetapi semua tidur tidak sama, dan dampaknya terhadap kesehatan kita dapat bervariasi tergantung pada keadaan. Jadi, sementara berbagai penelitian telah mengungkapkan bahwa tidur memainkan peran yang sangat penting dalam menjaga kesehatan manusia.
Namun, masih banyak pertanyaan tentang tidur dan hubungannya dengan otak yang belum terjawab.
"Di luar pertanyaan besar seputar mengapa kita tidur, ada banyak misteri tentang bagaimana kita tidur. Apa saja pusat otak yang terlibat dalam inisiasi, pemeliharaan, dan penghentian tidur? Apa bahan kimia otak yang terlibat dalam hal ini? Bagaimana otak beralih dari tidur gerakan mata cepat (REM) ke tidur non-REM?," Jata Raizen.
Satu-satunya cara untuk memecahkan teka-teki ini, menurut Raizen, adalah para ilmuwan harus melakukan lebih banyak penelitian.
(Ahmad Muhajir)