Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Peneliti Ungkap Indonesia Berisiko Rendah Terdampak Aktivitas Matahari

Ahmad Muhajir , Jurnalis-Kamis, 11 Agustus 2022 |15:01 WIB
Peneliti Ungkap Indonesia Berisiko Rendah Terdampak Aktivitas Matahari
Peneliti ungkap Indonesia berisiko rendah terdampak aktivitas Matahari (Foto: Freepik)
A
A
A

“Tidak ada istilah seperti itu di kalangan masyarakat ilmiah. Kita telah hidup lama berdampingan dengan cuaca antariksa. Aktivitas Matahari rutin terjadi. Yang perlu kita pahami adalah bagaimana prosesnya dan memitigasi dampak negatifnya semampu kita,” tegas dia.

Johan melanjutkan, BRIN juga hadir untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak panik dan tidak mudah termakan hoaks yang beredar berkaitan dengan badai matahari.

“Matahari memiliki siklus sekitar 11 tahun sekali. Siklus ini sifatnya tidak selalu sama di setiap saat. Terkadang, Matahari sangat aktif melepaskan energi eksplosif, sementara di periode lainnya Matahari bersikap sangat tenang," sambungnya.

Siklus 11 tahunan ini telah dikenal lama oleh manusia. Setidaknya, keberadaan siklus matahari telah terdokumentasikan dengan baik sejak abad 18.

Saat ini, jelas dia, kita sedang berada di awal siklus ke-25 yang diperkirakan akan mencapai puncaknya pada tahun 2024-2025.

Pada saat itu, aktivitas Matahari diperkirakan akan meningkat dengan frekuensi kejadian flare dan lontaran massa korona kemungkinan akan bertambah.

Masyarakat yang tertarik untuk mengetahui kondisi terkini cuaca antariksa, dapat melakukan pemantauan melalui situs penyedia layanan informasi cuaca antariksa di internet.

“BRIN juga menyediakan layanan informasi seperti ini melalui situs Space Weather Information and Forecast Services (SWIFtS) di laman http://swifts.brin.go.id/. Masyarakat dapat menemukan informasi mengenai aktivitas Matahari yang terjadi dalam 24 jam terakhir, serta kondisi geomagnet dan ionosfer global serta regional wilayah Indonesia,” ucap Johan.

Data-data yang disampaikan dalam SWIFtS merupakan rangkuman dari hasil pengamatan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan dunia, serta pengamatan dari antariksa.

SWIFtS juga telah dilengkapi dua Bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris untuk memfasilitasi pembaca dari Indonesia dan mancanegara.

“Masyarakat juga dapat mengetahui prediksi cuaca antariksa dalam 24 jam mendatang berdasarkan hasil analisis para peneliti di Pusat Riset Antariksa BRIN,” tutup Johan.

(Ahmad Muhajir)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement