Menanggapi studi tersebut, juru bicara Facebook menyatakan laporan hanya melihat pada keterlibatan bukan "jangkauan", istilah yang digunakan Facebook untuk menggambarkan berapa banyak orang yang melihat sebuah konten.
Pendekatan "jangkauan" ini tidak menghitung apakah ada interaksi di sana.
Seperti dilansir dari Antara, Facebook tidak menyediakan data jangkauan ini untuk publik. Peneliti biasanya menggunakan alat buatan Facebook yang bernama CrowdTangle untuk menghitung misinformasi di platform tersebut.
Agustus lalu, Facebook menutup akses peneliti untuk CrowdTangle dengan alasan memberikan akses ke peneliti bisa melanggar persetujuan mereka dengan Federal Trade Commission, yang dilakukan untuk menyikapi kasus Cambridge Analytica.
(Dyah Ratna Meta Novia)