Selain itu, Science Alert juga mengabarkan bahwa untuk bertelur, penguin kaisar membutuhkan es yang stabil. Setidaknya selama sembilan bulan, atau bahkan hingga anak-anak mereka cukup dewasa. Sehingga suhu yang lebih hangat dan wilayah yang rentan terkena perubahan iklim ini dianggap dapat membahayakan mereka untuk berkembang biak.
“Daerah yang jauh dari pantai ini lebih ke utara, mereka akan berada di daerah yang lebih hangat dan oleh karena itu akan lebih rentan terhadap hilangnya es laut lebih awal,” tulis para peneliti dalam jurnal Global Change Biology yang diterbitkan pada 2019.
Masalah lainnya, koloni baru ini memiliki kawanan yang sangat kecil. Ini menjadi semakin menghawatirkan mengingat penguin kaisar hidup berkerumun untuk mencegah angin dingin dan hipotermia. Sehingga jika semakin sedikit mereka ditemukan, semakin mereka sulit untuk bertahan hidup untuk melawan suhu ekstrem.
Tidak dapat dipastikan apakah wilayah-wilayah ini merupakan tempat mereka menetap. Namun melihat kini sudah memasuki musim kawin, ini menjadi suatu kekhawatiran tersendiri. Terlebih tahun lalu jurnal Global Change Biology juga memperkiraan jumlah penguin saat ini akan menurun sekitar 31% selama tiga generasi berikutnya.
(Ahmad Luthfi)