Eniya lantas memaparkan isu impor hingga 2,9 juta ton garam industri yang diimpor. Impor ini mau tidak mau dilakukan, karena pihak dalam negeri belum ada yang sanggup memenuhi kebutuhan garam industri ini, sedangkan pihak industri harus tetap menjalankan bisnisnya.
“Kita sebagai perekayasa di BPPT harusnya mampu melihat ini sebagai peluang. Dengan pengalaman kita sebelumnya yang mampu menghasilkan garam farmasi di Kimia Farma, yang notabene standarnya lebih rumit dibandingkan dengan garam industri,” paparnya.
Dirinya berharap dengan diadakannya kick off meeting ini, Kedeputian TIEM mampu bersinergi dengan kedeputian lainnya, bisa menentukan job description masing-masing unit, sehingga pekerjaan bisa dapat lebih terarah.
“Saya kira masalah teknis bisa kita atasi semua, mungkin saya ingatkan kembali untuk masalah administrasi. Kita ikuti aturan yang berlaku mengenai administrasi, jangan sampai kesalahan kecil merusakan mimpi besar kita untuk mengurangi impor garam industri di Indonesia,” ujar Eniya.