JAKARTA - Kemacetan yang terjadi di tol layang (elevated) Jakarta-Cikampek akhir pekan lalu, rupanya diwarnai insiden kecelakaan beruntun. Tabrakan yang diduga menjadi insiden pertama sejak tol layang digunakan pada 15 Desember 2019 lalu, terjadi di KM 27 arah Cikampek.
Kecelakaan beruntun tersebut melibatkan lima unit kendaraan yang datang dari arah Jakarta. Beruntung kecelakaan tersebut tidak memakan korban jiwa, dimana pengemudi hanya mengalami luka ringan. Akibat tabrakan tersebut, lima mobil juga mengalami kerusakan cukup parah, dari benturan antar mobil yang terjadi

Dugaan penyebab kecelakaan disebut oleh pihak Jasa Marga, akibat pengendara gagal mengantisipasi pergerakan pengguna jalan lain di depannya. Sehingga terjadi insiden tabrak belakang sehingga menambah pelik situasi kepadatan di jalur tol layang sepanjang 38 kilometer tersebut.
Munculnya insiden kecelakaan perdana di ruas tol layang Jakarta-Cikampek tersebut mengingatkan kembali pentingnya kesiapan pengendara jelang berkendara di jalur tersebut. Risiko kehilangan konsentrasi pengendara saat melaju di jalur tersebut diungkapkan oleh Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu.

Peluang terjadinya kecelakaan akibat pengendara kehilangan konsentrasi wajar terjadi, terlebih dengan kondisi jalan tol layang itu yang cenderung monoton. "Kondisi rute jalan yang monoton bisa menimbulkan sindrom highway hypnosis, semakin rentan terjadinya dengan kondisi jalur lurus serta jarak sampai 38 kilometer," kata Jusri.