Delapan situs wilayah dalam penelitian baru ini mencakup tanggul curam. Tanggul curam tersebut mengalami erosi yang menunjukkan lapisan batuan dan es yang terlihat oleh MRO. Es-es tersebut pertama kali muncul di antara satu dan tiga meter di bawah tanah.
Baca juga: Ilmuwan Pecahkan Misteri Hilangnya Air di Mars
Dundas mengatakan, lokasi es tersebut mendukung gagasan bahwa garis lintang Mars secara periodik terdapat hujan salju besar jutaan tahun lalu, ketika Mars miring pada porosnya di sudut yang lebih curam dari sekarang.
Seorang ilmuwan planet dari Caltech, Bethany Ehlmann, mengatakan bahwa es tersebut dapat dimanfaatkan untuk mencatat perubahan iklim di Mars baru-baru ini. Penemuan ini juga dapat membantu astronot di masa depan – yang mungkin suatu hari bisa mendarat di garis lintang Mars – untuk mengonsumsi air tersebut.
Misi manusia ke Mars kemungkinan akan bergantung pada penggalian air dari lingkungan setempat, baik membakarnya dari mineral terhidrasi maupun menambangnya dari endapan es. Manusia kemudian akan meminum air atau memecahnya menjadi hidrogen dan oksigen, yang kemudian bisa digunakan untuk pembuatan udara untuk bernapas dan metana untuk bahan bakar roket.
(Ahmad Luthfi)