CALIFORNIA - Seorang ahli teknologi telah menciptakan sebuah chip komputer berdasarkan neuron tikus yang bisa mengenali bau bahan peledak. Perangkat itu bisa ditanamkan ke otak robot masa depan, dan bisa dilatih untuk mengenali bahaya melalui bau serta menggantikan keamanan bandara tradisional yang dikerjakan oleh manusia.
Dilansir dari Dailymail.co.uk, Rabu (30/8/2017), perangkat Koniku Kore adalah 'dunia pertama' yang mampu menghirup dan mencium bau udara, serta mampu mendeteksi bahan kimia dan bahan peledak yang mudah menguap atau bahkan penyakit seperti kanker. Hal tersebut berarti di masa depan penumpang pesawat bisa melwati jalur keamanan yang panjang dan digantikan dengan robot yang bisa tersebut.
Sementara mereka yang berkecimpung di bidang Artificial Intelligence (AI) bekerja dengan giat untuk menciptakan mesin yang bisa meniru otak manusia, seperti pengusaha teknologi komputer implan Elon Musk. Seorang peneliti telah menemukan cara untuk menggabungkan neuron dengan sirkuit elektronik.
Neuroscientist Nigeria Oshiorenoya Agabi mengatakan superkomputer yang dibuatnya dapat menyimulasikan kekuatan 204 neuron otak. Oshiorenoya Agabi mengatakan bahwa alih-alih menyalin neuron, ia lebih memilih untuk mengembangkan sel biologis.
Perangkat ini dikembangkan oleh Koniku Silicon Valley yang berbasis start-up dan memperkenalkannya pada konferensi TEDGlobal di Tanzania. Dia mengatakan perangkat tersebut telah terdaftar dan mendapat pemasukan awal sebesar 8 juta Dollar atau sekira Rp106 miliar dan diperkirakan akan melonjak menajdi 30 juta Dollar atau setara dengan Rp400 miliar pada 2018.
Salah satu tantangan utama adalah menemukan cara untuk menjaga agar neuron tetap hidup ketika ditanam ke dalam kepala robot masa depan. Agabi mengatakan bahwa neuron yang mereka kembangkan saat ini dapat tetap hidup selama 2 tahun di lingkungan laboratorium dan 2 bulan di dalam perangkat.
"Kami ingin membangun otak neuron biologis - sebuah sistem otonom yang memiliki kecerdasan. Kami tidak ingin membangun otak manusia," ungkap Agabi. Agabi menempuh pendidikan sarjana di bidang fisika teoritis di Lagos sebelum tertarik dengan neuroscience dan bio-engineering untuk gelar PhD (Doctor of Philosophy) di London.
Seiring dengan perkembangan AI, para ilmuwan mencoba dan berhasil membuat mesin yang mirip dengan otak manusia, yang mampu belajar dan memahami lingkungan sekitar. Musk, telah berulang kali memperingatkan tentang bahaya AI yang dapat membuat manusia punah. (din)
(Kemas Irawan Nurrachman)