Namun iridoplas memiliki bentuk struktur yang berbeda. Satu lapisan dengan lainnya terpisah oleh lapisan cair tipis yang hampir mirip pancake yang ditempelkan dengan sirup maple. Hasilnya menjadi sama seperti apa yang terjadi ketika minyak ditumpahkan di atas air di genangan.
“Cahaya yang melewatinya dibengkokkan sedikit, itulah yang disebut campuran. Jadi inilah yang disebut dengan cahaya warna-warni yang berkelap-kelip,” ujar Heather Whitney, ahli tumbuhan dari University of Bristol di Inggris.
Layering iridoplasts ini menyebabkan cahaya yang menabrak jaringan mereka membengkok lagi dan lagi, sehingga menciptakan kilau yang sangat dramatis. Lebih penting, memungkinkan struktur untuk menyerap jenis cahaya yang tersedia di lanskap hitam di bawah kanopi hutan yang panjang gelombangnya seperti merah dan hijau. Hanya cahaya biru yang akan dipantulkan kembali, dan itulah yang terlihat oleh manusia.
Whitney dan rekan-rekannya juga berpikir bahwa layering juga menyebabkan cahaya bereaksi lebih lambat dengan bahan kimia fotosintesis dalam struktur, memungkinkan pengumpulan cahaya lebih efisien.
Bagi Whitney, temuan ini menawarkan bukti lebih lanjut dari fleksibilitas tanaman 'yang luar biasa’. Sebab, tumbuhan tidak dapat bergerak ketika kondisi tidak menguntungkan. Mereka harus menemukan cara lain untuk beradaptasi dengan dunia di sekitar mereka. Sering kali adaptasi itu berbentuk kimia seperti evolusi dari fotosintesis kimia ungu di awal Bumi, yang sangat cocok untuk panjang gelombang cahaya yang tersedia pada saat itu.
(Kemas Irawan Nurrachman)