Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tujuh Fakta Insiden Galaxy Note 7

Kustin Ayuwuragil Desmuflihah , Jurnalis-Jum'at, 21 Oktober 2016 |14:58 WIB
Tujuh Fakta Insiden Galaxy Note 7
(Foto: Phone Arena)
A
A
A

JAKARTA – Samsung terpaksa membunuh Galaxy Note 7 yang digadang-gadang sebagai lini Note paling kuat. Perangkat tersebut tidak hanya menjadi andalan Samsung di semester kedua 2016, tetapi juga mengusung teknologi baru yang belum pernah dihadirkan perusahaan asal Korea Selatan (Korsel) itu di model lainnya.

Kematian Galaxy Note 7 mengundang rumor di berbagai kalangan. Mulai dari Samsung sebenarnya mempercepat produksi demi menyalip iPhone 7, hingga yang terbaru perombakan manajerial internal. Kendati demikian, berikut adalah fakta yang telah dikonfirmasi Samsung mengenai insiden Galaxy Note 7:

Peluncuran

Samsung secara resmi mengungkap Galaxy Note 7 pada 2 Agustus di New York. Dua pekan kemudian, Samsung mulai menjual Galaxy Note 7 di 10 pasar di dunia, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Korsel.

Lonjakan permintaan

Samsung terkejut dengan jutaan pre-order Galaxy Note 7. Mereka kemudian memutuskan untuk menunda peluncuran Note 7 di Indonesia yang awalnya pada 1 September menjadi 7 September.

Ledakan demi ledakan

Ledakan pertama dilaporkan terjadi di Korea Selatan pada 24 Agustus. Ledakan kemudian mulai merambah ke AS dan China. Kendati demikian, Samsung hanya menerima satu tuntutan dari pria Florida yang Jeep miliknya terbakar menjadi arang. Padahal, Note 7 sempat meledak di dalam garasi hingga saku penggunanya. Samsung kemudian mengatakan beberapa laporan ledakan ternyata palsu.

Penarikan pertama

Samsung akhirnya resmi menarik Galaxy Note 7 pada 2 September di Inggris dan Amerika. Sebanyak 2,5 juta perangkat ditarik secara global, 1 juta di AS. Mereka berjanji akan memberikan perangkat pengganti dalam beberapa pekan ke depan kala itu.

Penarikan pertama dilakukan karena Galaxy Note 7 disebut cacat baterai. Oleh karena itu, tidak semua perangkat di China ditarik karena Samsung SDI tidak membuat baterai dari Note 7 di China. Samsung kemudian memesan lebih banyak baterai dari produsen baterai China ATL untuk melanjutkan produksi Note 7.

Cacat baterai

Samsung mengatakan dalam pernyataannya bahwa cacat baterai pada Note 7 yang dibuat SDI terjadi karena ukuran baterai sedikit terlalu besar dibandingkan kompartemennya. Ini membuat perangkat berpotensi tinggi meledak dan terbakar. Perusahaan Korsel ini kemudian membuka situs untuk mengecek IMEI dari Note 7 yang aman dan yang berpotensi tinggi mengalami cacat baterai.

Boikot

Federal Aviation Administration (FAA) AS menghimbau pengguna untuk tidak menyalakan Galaxy Note 7 atau mengisi baterainya di dalam pesawat atau dibawa di dalam kargo pada 8 September. Imbauan ini akhirnya berujung pada larangan Komisi Keamanan Produk Konsumen (CPSC) AS bagi pengguna untuk mengoperasikan Note 7 yang belum ditukar.

Berbagai maskapai di dunia mulai melarang Galaxy Note 7 untuk memasuki pesawat. Garuda Indonesia adalah salah satunya.

Penarikan kedua dan kematian

Hampir bersamaan dengan boikot, Samsung mulai mengirimkan unit pengganti Note 7 di pasar-pasar yang sudah kebagian perangkat tersebut. Samsung juga sempat kembali melanjutkan penjualan Note 7 mulai 28 September di beberapa pasar seperti AS dan Inggris. Namun, unit pengganti dan baru juga masih mengalami masalah yang sama sehingga Samsung mengumumkan mereka menghentikan produksi di Vietnam dan Korea.

Penarikan kedua kembali dilakukan pada akhir September. Drama yang sebelumnya terjadi kembali terulang sehingga para operator AS mulai dari AT&T, T-Mobile, dan lainnya memutuskan untuk berhenti menjual Galaxy Note 7. Pada 11 Oktober, Samsung secara permanen mengumumkan mereka menyerah pada penjualan dan produksi Note 7. Hingga kini perusahaan masih mencoba mencari penyebab hakiki meledaknya Note 7.

(Kemas Irawan Nurrachman)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement