JAKARTA - Symantec Corporation, mencatat lebih dari setengah miliar atau sekira 500 juta data informasi pribadi dicuri atau hilang pada 2015. Pencurian informasi ini bisa memberikan dampak bagi perusahaan.
Bahkan perusahaan yang berkecimpung dalam keamanan cyber itu menyatakan, rata-rata perusahaan besar di seluruh dunia termasuk Indonesia, kini menjadi target bidikan yang ditargetkan tiga kali lipat dalam setahun ini.
"Tahun lalu kami melihat pelanggaran data terbesar yang pernah dilaporkan kepada publik. Tercatat 191 juta kasus pencurian data itu disusupi dalam satu kejadian tunggal," ujar Halim Santoso, Director Systems Engineering ASEAN di Jakarta, Selasa (19/4/2016).
Bahkan rekornya sembilan pelanggaran besar yang dilaporkan. Ketika itu 429 juta identitas telah terekpos, tetapi rata-rata sejumlah perusahaan memilih untuk tidak melaporkan jumlah data yang hilang melonjak 85 persen.
"Perkiraan konservatif Symantec sendiri, dari pelanggaran itu mereka ada yang tidak dilaporkan. Sehingga meningkatkan jumlah sebenarnya dari data yang hilang jadi lebih dari setengah miliar," ungkap Santoso.