“Warna kebiruan yang mencolok itu memberi tahu kita ukuran dan komposisi partikel kabut,” kata anggota tim New Horizons Carly Howett dari Southwest Research Institute (SwRI) di Boulder, Colorado.
Langit biru seringkali dihasilkan dari terpencarnya cahaya Matahari oleh sejumlah partikel yang sangat kecil. Di Bumi, partikel-partikel itu adalah molekul nitrogen. “Sedangkan di Pluto, adalah partikel yang wujudnya seperti jelaga bernama tholin,” tuturnya.
Kepala peneliti utama misi itu, Alan Stern, telah menggoda para penggemar Pluto beberapa hari belakangan, meminta mereka untuk mengharapkan sesuatu yang spesial dari citra-citra baru yang dirilis setiap hari Kamis. “Siapa sangka ada langit biru di Sabuk Kuiper? Indah sekali,” kata Stern.
“Kabutnya cukup tipis, jadi Anda akan hanya akan melihat warna biru saat matahari terbit dan terbenam,” jelas Dr. Howett kepada BBC News, Sabtu (10/10/2015).
Sejak 14 Juli, New Horizons telah bergerak lebih dari 100 juta km melewati Pluto. Itu berarti pesawat tersebut berada sekira lima miliar kilometer dari Bumi. Jarak yang sangat jauh mengakibatkan pengiriman data yang jarang. Baru pada tahun 2016 semua informasinya akan diterima di Bumi.
(Amril Amarullah (Okezone))