CALIFORNIA - Astronot yang melakukan perjalanan menuju Mars akan diterpa dengan banyak radiasi. Intensitas radiasi ini akan sebanyak seperti yang mereka dapatkan dari pemindaian CT seluruh tubuh, yang dilakukan satu kali setiap pekan selama setahun.
Dilansir Dailycamera, Jumat (31/5/2013), badan antariksa Amerika Serikat, NASA, berencana untuk melakukan eksplorasi luar angkasa dan radiasi merupakan kekhawatiran yang besar. Peneliti mengatakan, radiasi berbahaya ini akan mengancam dalam beberapa kasus dan cukup berpotensi meningkatkan risiko kanker sebesar 3 persen.
Radiasi ini bisa muncul dari sinar kosmik galaksi berenergi tinggi yang dilontarkan melalui ledakan supernova hingga ledakan sporadis dari partikel yang dilepaskan oleh matahari. Manusia yang berada di Bumi bisa terlindungi dari radiasi luar angkasa berbahaya tersebut berkat medan magnetik Bumi.
NASA menarget untuk mengirimkan kru astronot ke orbit planet merah pada 2030. Sebelum manusia yang diluncurkan ke Mars, NASA melalui misi robot Curiosity mencoba mengukur risiko radiasi tersebut.
Kabarnya, Curiosity juga memiliki sensor radiasi yang ditempatkan selama perjalanan ke Mars. Ilmuwan mengkalkulasi terpaan radiasi selama perjalanan enam bulan ke Mars. Untuk perjalanan bolak-balik antara Bumi - Mars, maka astronot bisa diterpa radiasi sebesar 662 millisieverts.
Ukuran radiasi tersebut dinilai cukup besar, di mana standar karir astronot di luar angkasa memiliki batasan hingga terpaan radiasi 1.000 millisieverts. NASA juga memperhatikan usia dan jenis kelamin sang astronot.
Untuk karir astronot pria yang berusia 30 sampai 60 tahun, maka dibatasi terpaan radiasi sebesar 800 sampai 1.200 millisieverts. Sedangkan untuk astronot wanita, batasannya hingga 600 sampai 1.000 millisieverts.
Durasi perjalanan dari Bumi ke Mars menjadi hal yang penting, di mana akan mempengaruhi intensitas terpaan radiasi. Untuk itu, ilmuwan NASA harus memikirkan bagaiaman caranya menciptakan mesin roket yang bisa mempercepat perjalanan antariksa.
"Anda ingin sampai di sana secepat mungkin untuk mengurangi paparan radiasi," ungkap Don Hassler, ilmuwan yang bertanggungjawab atas instrumen radiasi yang ditempatkan pada Curiosity.
(Fetra Hariandja)