Cloud Computing sedang tumbuh. Melalui jajak pendapat ke tiga perempat dari 500 perusahaan global, Gartner memprediksikan bahwa belanja untuk cloud diharapkan meningkat hingga USD 109 miliar tahun ini, naik dari USD 91 miliar tahun lalu. Bagi CIO di Asia Pasifik, model cloud hybrid adalah pendekatan yang menarik karena bisa membawa hal terbaik dari public dan private cloud.
Seperti teknologi apapun, kebanyakan nilai dari cloud computing akan terasa saat sebuah organisasi mampu mengidentifikasi pendekatan terbaik untuk kebutuhannya. IDC belum lama ini mengungkapkan beberapa 'kenyataan' cloud computing, berdasarkan penggunaan dari trio cloud – public, private dan hybrid – seperti dilaporkan dalam IDG/IDC Cloud Leadership Forum, Juni 2012.
Di antara hal yang diungkap, diyakini bahwa public cloud, dan cloud yang menggunakan sistem TI di lokasi (on-premise) adalah yang paling diawasi soal keamanan, ketersediaan dan kemudahan pengaturannya. Kewaspadaan akan hal-hal tersebut diperkirakan akan makin tinggi seiring makin banyaknya beban kerja IT yang dimasukkan ke cloud dan di-host oleh penyedia layanan luar yang berada di lokasi geografis yang terpisah-pisah .
Iming-iming akan adanya penghematan biaya tetap jadi pendorong besar akan adopsi cloud, namun pembicara dari Jet Propulsion Laboratory-nya NASA (JPL) memperingatkan bahwa "organisasi perlu mencoba layanan public cloud untuk menentukan sendiri seperti apa Service Level Agreement yang ditawarkan – dan untuk menentukan apakah layanan itu layak untuk beban kerja spesifik," demikian kata Jean S. Bozman, dalam artikel "As Cloud Computing Matures, Customers Focus on Security, Availability, and Management" di bulan Juli.
"Lebih baik Anda belajar sambil jalan, dan terus berjalan," kata Soderstorm dari JPL, "daripada sekadar mencari-cari solusi cloud yang sempurna saat pertama kali menghadirkan sebuah aplikasi di layanan public cloud."
Balok Penyusun Cloud
Namun, cloud computing bukan hanya soal memotong biaya secara taktis, hal itu bahkan bukan hal utama dari layanan cloud. Cloud Computing adalah soal menempatkan sebuah infrastruktur IT yang lebih cepat dan lebih fleksibel untuk mendukung bisnis.
Hal itu berarti, membangung cloud adalah sebuah keputusan IT yang sangat strategis, mungkin keputusan paling penting yang akan pernah dibuat oleh seorang CIO pada dekade ini. Tapi tidak semua pendekatan itu sama. Dari tiga model dasar pembangunan cloud, satu di antaranya akan memaksimalkan nilai dari cloud dan manfaat bisnis yang didapatkan darinya.
Pendekatan pertama adalah berusaha menerjemahkan metodologi "greenfield" yang digunakan oleh penyedia layanan di dalam lingkungan perusahaan. Karena kesederhanaannya, pendekatan ini menarik tapi sekaligus terlalu naif. Bagi kebanyakan perusahaan, aset TI yang diberi label "legacy" juga sebenarnya bersifat kritis dan merupakan bagian inti dari bisnis. Jadi, sangat tidak mungkin untuk memulai dari nol.
Pendekatan kedua adalah membangun cloud dari sebagian kecil infrastruktur yang sudah ada, misalnya dari platform virtualisasi yang sudah digunakan. Hasilnya? Bukannya memecah dan memotong pulau-pulau yang ada di cloud, Anda justru membuat pulau baru.
Pendekatan terakhir adalah membawa seluas mungkin aset IT di dalam framework manajemen hybrid cloud. Mendukung kemampuan ini membutuhkan produk manajemen cloud yang bisa memayungi banyak platform virtualisasi, dan beragam penyedia public cloud berdasarkan berbagai teknologi di bawahnya, dan bahkan berbagai server fisik.
Terbuka Lebih Baik
Open Cloud memungkinkan arsitektur hybrid semacam ini.
Keterbukaan di cloud bukan hanya deskripsi dangkal dari kemampuannya, tapi adalah sebuah filosofi yang memayungi keseluruhannya dan mencakup banyak dimensi. Sebuah open cloud mencakup karakteristik berikut ini:
- open source
- komunitas yang kokoh dan independen
- berbasis standar terbuka
- kemerdekaan untuk memanfaatkan kekayaan intelektual
- bisa dipasang pada infrastruktur yang Anda pilih
- memiliki Application Programming Interface (API) yang terbuka dan bisa dikembangkan
- portabilitas aplikasi dan lingkungan runtime-nya dimungkinkan lintas cloud
Hanya open cloud yang bisa memberikan nilai utuh dan janji dari cloud computing. Open cloud akan membawa efisiensi, keuletan dan manfaat dari segi biaya cloud ke lebih banyak infrastruktur TI yang Anda miliki, lebih banyak aplikasi dan lebih banyak pengguna.
Open cloud menyejajarkan investasi IT yang sudah ada di hardware, software dan pelatihan – sehingga memungkinkan Anda membangun cloud secara evolusioner sambil mengurangi biaya dan risiko. Open cloud mengizinkan Anda memilih teknologi terbaik untuk pengguna, saat ini dan yang akan datang, dan mencegah satu vendor mengendalikan akses ke inovasi terbaik, biaya paling rendah dan model ekonomi terbaik.
Red Hat menghadirkan kemampuan ini melalui CloudForms, software manajemen cloud open hybrid yang bisa mengelola sumber daya IT yang heterogen, baik on-premise dan di public cloud. CloudForms menjalankan berbagai pekerjaan, termasuk:
- Membuat sebuah himpunan sumber daya (cloud), dari infrastruktur heterogen yang bisa mencakup sistem virtual menggunakan gabungan dari hypervisor, software manajemen virtualisasi dan infrastruktur dari public cloud yang menjalankan berbagai teknologi. Hybrid secara umum digunakan untuk merujuk pada manajemen cloud yang mencakup baik sumberdaya dedicated (termasuk yang on-premise dan hosted) maupun sumberdaya yang berbagi dengan banyak organisasi (multi-tenant) di dalam penyedia public cloud.
- Memungkinkan administrator menggunakan cetak biru aplikasi untuk mendefinisikan layanan dan kebijakan terkait, dan untuk membuat layanan-layanan ini tersedia di dalam katalog. Layanan-layanan tersebut lalu dihadirkan ke sebuah himpunan sumberdaya dalam bentuk image yang mencakup aplikasi, sistem operasi dan software pendukung terkait.
- Menyediakan akses layanan mandiri bagi pengguna dan pengembang melalui sebuah web interface. Layanan ini memiliki aksesibilitas dan ketersediaan, misalnya lingkungan pengembangan mobile, yang dikendalikan melalui kebijakan yang diatur oleh admin saat layanan itu didefinisikan pertama kali.
- Mengelola layanan melalui siklus hidupnya dengan mengawasi instance yang sedang bejalan, memperbarui layanan berdasarkan kebijakan dan melakukan banyak fungsi lain.
Semua kemampuan itu penting karena memungkinkan IT untuk secara kolektif menawarkan semua keuletan dan manfaat dari cloud, sambil tetap mempertahankan kendali atas beban kerja yang dibutuhkan.
Dalam beberapa tahun ke depan, kami memperkirakan akan ada banyak inovasi dalam hal pemberian harga, tingkat layanan, penawaran layanan dan keamanan untuk cloud, baik on-premise maupun publik.
Sebuah arsitektur open cloud akan memungkinkan perusahaan untuk memanfaatkan inovasi ini sambil meminimalkan gangguan pada bisnis dan memanfaatkan pilihan-pilihan ini pada waktu yang optiman sesuai kebutuhan dan aplikasi yang tepat.
Arsitektur cloud yang tertutup bisa membatasi pilihan pada penyedia infrastruktur tertentu saja dan menempatkan vendor sebagai pengendali infrastruktur organisasi.
Bergerak ke cloud bukanlah tantangan yang mudah. Agar bisa dilakukan dengan benar, butuh investasi dari sisi keuangan dan waktu, namun cloud yang sederhana, efisien dan fleksibel yang tak mengunci Anda kan menjadi sebuah investasi yang layak.
*Oleh Damien Wong, General Manager, ASEAN, Red Hat
(Andina Librianty)