Sindonews.com - Sistem keamanan parkir Bandara Internasional Soekarno- Hatta patut dipertanyakan. Dalam satu hari kemarin, tiga mobil yang diparkir di bandara terbesar di Tanah Air tersebut dilaporkan hilang.
Tiga mobil yang berjenis sama, Toyota Avanza, hilang saat berada di area parkir Terminal 1A, 1B, dan 1C. Kasat Reskrim Polres Metro Bandara Soekarno-Hatta, Kompol Roberto mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan pengejaran kepada tiga pelaku yang identitasnya sudah diketahui. "Identitas pelaku sudah diketahui. Kami sudah membentuk tim untuk menangkap pelaku," ujarnya seperti ditulis okezone, Rabu (5/10/2011).
Ditanya lebih lanjut, apakah komplotan pencuri itu melibatkan oknum penjaga parkir, Roberto mengaku masih terus menyelidikinya. Namun, kemungkinan itu bisa saja terjadi. Mengingat modus pencurian itu sangat rapi. "Semua itu bisa saja terjadi. Akan tetapi, harus dibuktikan dengan data-data yang akurat. Makanya sampai saat ini kita terus melakukan pengembangan," tambahnya.
Identitas pelaku, terungkap dari hasil rekaman kamera CCTV yang terpasangan di areal parkir. Namun, pihaknya enggan memberitahukan rekaman kamera CCTV itu, sampai proses penyidikan selesai dilakukan. Menurut Roberto, pencurian mobil di terminal 1 bandara, dilakukan dengan sangat rapih. “Pelaku dipastikan keluar lewat pos secara resmi dan mengecoh petugas parkir yang stand by 24 jam," ujarnya.
Pelaku diduga menggunakan plat ganda, dan membawa kendaraan sejenis saat masuk ke areal parkir. Setelah memasuki areal parkir, pelaku tinggal mencari mobil yang serupa dengan yang kendaraannya. "Tentunya, dengan metode tersebut mereka bisa leluasa keluar melewati pos parkir," terangnya.
Ditambahkan, biasanya pelaku membawa mobil rental dan meninggalnya di areal parkir selama beberapa hari. Setelah itu, pelaku kembali dan coba mengeluarkan mobil dengan cara mengelabui petugas parkir dengan mengatakan kartu parkir mereka hilang.
Untuk itu, petugas akan mulai melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah mobil di areal bandara. Jika ada pengunjung yang kartu parkirnya hilang, diminta langsung melapor ke Polda Metro Jaya dan bukan ke petugas parkir. "Kami mengintruksikan petugas untuk tidak menerima laporan pemilik kendaraan yang kehilangan kartu parkir. Bukan sekadar denda dan menerima kartu identitas, karena semua itu bisa dipalsu," jelasnya.
Salah seorang korban, Abdullah Irwanto (28) mengatakan, mobil Toyota Avanza bernomor polisi B 1582 NFU miliknya di parkir menginap di Terminal 1A. Karena dia harus terbang ke Surabaya, selama beberapa hari.
Abdullah berangkat, pada Jumat (30/9) dan kembali ke Jakarta, pada Senin 3 Oktober 2011, sekira pukul 22.00 WIB. Saat pulang, mobilnya sudah tidak ada di tempat parkir. Saat ditanya ke petugas Secure Parking, katanya mobil itu masih tercatat di operator. "Lalu saya bersama petugas Secure Parking melakukan pengecekan ke lokasi, tetapi mobil saya tidak juga ditemukan. Baru setelah itu saya buat laporan ke Polres Bandara," tambahnya.
Deputi Senior Manajer Bandara Soekarno-Hatta Mulya Abdi saat dikonfirmasi mengaku terus berkoordinasi dengan petugas Polres Bandara Soekarno-Hatta untuk mengungkap kasus ini.
Dari informasi yang dihimpun Sindo di lapangan, sindikat pencuri diduga memanfaatkan jalan tikus untuk keluar dari lokasi parkir. Jalan tikus yang dimaksud adalah jalur keluar dari lokasi parkir tanpa melintasi pos parkir untuk keluar. Celakanya, PT Angkasa Pura II diduga lupa menutup kembali jalan tersebut dan hanya menggunakan batu untuk menutupnya.
”Bagaimana tidak hilang, sudah pasti ada yang memantau jalan tikusnya. Jalan tikus itu baru tadi ditutup sama orang Angkasa Pura. Ada dua jalan tikus, yang pertama depan VVIP, yang kedua di ujung Terminal 1C. Lewat sana tidak akan melewati penjaga parkir untuk membayar parkir,” ujar seorang tukang ojek yang enggan disebutkan namanya.
Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menilai bandara akan dengan mudah kebobolan jika tidak melakukan eksklusivitas terhadap kawasan. Kawasan bandara yang berpredikat internasional sudah seharusnya dibatasi dari akses masyarakat umum. "Tujuannya untuk memudahkan pengawasan dan kontrol terhadap kegiatan di kawasan tersebut. Selama ini kawasan bandara belum terbatasi dari kegiatan yang berhubungan dengan penerbangan," katanya.
Reza menjelaskan, pencurian mobil merupakan jenis kejahatan properti yang terpola. Pemahaman pelaku akan pola sangat baik, baik pola dari otoritas keamanan maupun target atau pemilik kendaraan. Pelaku pencurian bahkan lebih memahami pola ini dibandingkan pihak keamanan.
“Bila data kehilangan mobil sudah mencapai sehari tiga kali, patut diduga sudah terbangun pola kejahatan yang tersusun baik. Pelaku belajar dengan baik, tapi aparat tidak siap dengan pola pengamanannya,” ungkapnya.
Melihat kondisi seperti itu, petugas keamanan seharusnya mengevaluasi kejadian yang berulang ini untuk mempelajari pola pelaku kejahatan. Dengan memahami pola kejadian di lapangan ini, petugas keamanan dapat melakukan pencegahan atau peningkatan kewaspadaan. Paling tidak dapat meminimalkan peluang karena memiliki pola data kejahatan ranmor. “Sayangnya petugas keamanan kita tidak terbiasa bekerja dengan profiling system atau mendata dan menganalisis data,” tandas Reza.
Dia juga berani memastikan bahwa pencurian kendaraan bermotor dilakukan secara terorganisasi karena ada pelaku pencuri atau pemetik, penadah, penjual,yang memodifikasi, hingga pemalsuan dokumennya. ”Jauh lebih terorganisir dibandingkan kejahatan lain.Sebab itu, aparat keamanan harus lebih terorganisasi untuk mengimbanginya, termasuk mencurigai keterlibatan dari pihak dalam,’’ ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo menegaskan, pengguna jasa parkir merupakan konsumen yang berhak terhadap pelayanan keamanan dan keselamatan. “Kalau dirugikan, konsumen dapat mengaduke pengelola,minimal mendapatkan penjelasan,” katanya.
Bahkan konsumen juga dapat meminta ganti rugi. Tingginya angka kehilangan di lokasi parkir bandara ini, menurutnya, harus menjadi catatan bagi pengelola. Dia mengaku YLKI memiliki cukup banyak angka aduan masyarakat pengguna jasa parkir meski tidak ingat jumlah pastinya.
Kepala Bidang Media Avanza- Xenia Indonesia Club (AXIC), Syakur Usman, menjelaskan jenis kendaraan Daihatsu Xenia dan Toyota Avanza rawan pencurian karena sangat populer di Indonesia. Dia menunjuk angka penjualannya yang mencapai 12.000–15.000 kendaraan per bulan.
Menurut dia, kendaraan jenis ini populer karena ekonomis dan berkapasitas ukup besar.Namun,kepopulerannya membuat kendaraan ini kerap menjadi incaran sindikat pencurian kendaraan bermotor (ranmor).“Maling cari yang populer biar mudah dijual,” lanjutnya.
Karena fakta itu, anggota klub AXIC saat ini pun sudah mulai memasang GPS tracker secara sembunyi. Dari data milis AXIC,angka kehilangan jenis mobil ini sangat tinggi. Lokasi yang kerap terjadi pencurian adalah Jakarta Timur dan Bekasi.Wilayah rawan lainnya adalah Kebayoran Baru,Jakarta Selatan; Tanjung Duren, Jakarta Barat; dan Depok.
“Satu hari bisa tiga kali aduan kehilangan,bahkan lokasi kejadiannya cukup berdekatan,” bebernya. Syakur menjelaskan, pergerakan sindikat pencuri mobil tergolong sangat cepat. “Pernah suatu kali kendaraan anggota yang dipasangi GPS tracker dicuri di Bekasi, besoknya terpantau sudah di Jawa Timur,”ungkapnya.
Sekadar diketahui, sebanyak tiga unit mobil Toyota Avanza, milik pengunjung Bandara Internasional Soekarno-Hatta Tangerang, Banten, hilang di areal parkir Terminal 1A, dan 1B. Berdasarkan informasi yang terhimpun, mobil Toyota Avanza bernomor polisi B 1582 NFU, milik Abdullah Irwanto (28) masuk di Terminal 1A, pada Jumat (30/9) dan diketahui hilang, pada Senin (3/10).
Mobil kedua yang hilang, Toyota Avanza Silver bernomor polisi B 1308 PFN, milik Suarta (53), masuk di parkir Terminal 1B, pada sabtu (1/10) dan diketahui hilang, pada Senin (3/10). Mobil selanjutnya adalah Toyota Avanza hitam bernomor Polisi F 1665 CG, milik Mohamad Nazmi (40), masuk di Terminal 1A, pada Minggu (2/10) dan hilang, pada Senin (3/10).
(Dadan Muhammad Ramdan)