Salah satu pendiri Binance lainnya, Yi He, menegaskan bahwa perusahaan akan menanggung seluruh kerugian yang diakibatkan oleh peretasan tersebut.
"Layanan penyetoran dan penarikan untuk sementara dihentikan sementara tim kami melakukan pemeriksaan keamanan, membekukan dana, serta berkoordinasi dengan penegak hukum," ujarnya.
Investigasi awal bursa menunjukkan bahwa insiden ini diduga melibatkan perangkat komputer (laptop) milik seorang insinyur DevOps yang telah disusupi. Hal tersebut memungkinkan penyerang mengakses kontainer layanan dan mengajukan transaksi penarikan yang tidak sah.
Binance menyatakan tidak menemukan bukti adanya kebocoran kunci privat dompet (wallet private key) dan akan menerbitkan laporan teknis terperinci setelah investigasi selesai dan seluruh fakta terverifikasi.
Beberapa pengamat industri sempat melaporkan potensi peretasan ini sebelum Binance mengonfirmasi masalah keamanan tersebut secara resmi. Beberapa di antaranya bahkan menyebutkan bahwa insiden ini berpotensi menjadi salah satu kasus pencurian mata uang kripto terbesar yang pernah tercatat.
Peristiwa ini terjadi setelah peretas mencuri USD 1,5 miliar (sekitar Rp27,22 triliun) dari platform Bybit pada Februari 2025 lalu—sebuah serangan yang dikaitkan dengan kelompok peretas yang berafiliasi dengan Korea Utara.
Dampak dari kabar insiden keamanan di Binance ini membuat harga Bitcoin bergerak melemah dan terkoreksi lebih dari tiga persen.
(Rahman Asmardika)