Tabrakan yang dihasilkan akan melepaskan energi yang setara dengan 3.000 kilogram TNT, bahan peledak militer dan industri yang umum.
Gray mengatakan jalur pasti dari benda yang melesat itu sulit diprediksi karena benda itu “didorong oleh sinar matahari” – sebuah gaya yang sangat lembut yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi.
Sebuah makalah penelitian terbaru yang ditulis bersama oleh 23 astronom, termasuk Gray, mendesak komunitas ilmiah untuk mengamati peristiwa tersebut dengan saksama.
Makalah penelitian tersebut, yang diulas dengan bahasa yang lebih sederhana oleh Scientific American, menyoroti bahwa dampak tersebut menawarkan kesempatan untuk mempelajari apa yang terjadi segera setelah benturan besar di permukaan Bulan.
Gray mengatakan bahwa lokasi benturan yang diprediksi terletak di sisi Bulan yang terkena sinar matahari, dekat dengan 'tepi' atau batas permukaan yang terlihat, yang dapat menguntungkan para pengamat.
“Batu-batu yang terlontar akibat benturan mungkin membentuk gumpalan yang akan terlihat di latar belakang gelap setelah terlepas dari Bulan. Seperti halnya banyak hal dalam sains, jawabannya adalah 'kita tidak tahu; mari kita cari tahu'," katanya.
“Mungkin kita akan melihat kilatan cahaya. Mungkin kita akan melihat batu-batu yang terlontar dari kawah. Mungkin kita bahkan akan melihat keduanya,” kata Gray.
Wahana Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) milik NASA – yang merupakan "semacam satelit mata-mata untuk Bulan" – akan mengambil foto lokasi tabrakan di Bulan sebelum dan sesudah tabrakan.
Wahana Pathfinder Lunar Orbiter milik Korea Selatan juga akan mencoba mengabadikan dampak dan akibatnya.