Dorong Literasi Digital yang Inklusif, ICT Watch dan Meta Gelar Pelatihan AI Ramah Disabilitas

Rahman Asmardika, Jurnalis
Rabu 21 Januari 2026 11:11 WIB
ICT Watch dan Meta Indonesia menggelar Pelatihan Literasi Kecerdasan Artifisial Ramah Disabilitas. (Foto: istimewa)
Share :

JAKARTA – Teknologi kecerdasan artifisial (AI) harus inklusif dan bisa dimanfaatkan semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas, sehingga tidak ada yang tertinggal dalam pemanfaatannya. Karena itu, literasi AI harus dapat menjangkau dan diakses oleh kalangan penyandang disabilitas.

ICT Watch bekerja sama dengan Meta Indonesia menyelenggarakan Pelatihan Literasi Kecerdasan Artifisial Ramah Disabilitas yang diikuti oleh 40 peserta disabilitas netra dan tuli. Acara yang digelar di Jakarta pada Selasa (20/1/2026) ini melibatkan langsung komunitas, di mana materi disampaikan oleh pelatih dari teman netra dan teman tuli. Dalam kegiatan tersebut, juga diluncurkan dokumen Panduan Pelaksanaan Kegiatan Literasi Digital untuk Penyandang Disabilitas Netra dan Tuli.

Modul Pelatihan Literasi AI Ramah Disabilitas menyajikan pemahaman dasar mengenai cara kerja serta prinsip penggunaan AI yang aman, etis, dan bertanggung jawab. Dikembangkan melalui kolaborasi dengan Komisi Nasional Disabilitas (KND), komunitas disabilitas, serta pendidik SLB, modul ini hadir dalam format inklusif yang ramah bagi teman tuli dan netra, dengan fitur aksesibilitas lengkap, mulai dari format easy-to-read dan ramah screen reader, hingga penggunaan video BISINDO, audio narasi, dan subtitle.

ICT Watch menegaskan pentingnya akses teknologi yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat melalui penyediaan sumber daya edukasi yang inklusif.

 

“Kami akan terus berkomitmen mendorong inklusivitas dalam program-program literasi digital, terutama di isu teknologi AI. Panduan dan modul literasi AI yang telah diterbitkan kami harap dapat digunakan seluas-luasnya, terutama dalam menjangkau kelompok teman netra dan teman tuli,” ujar Indriyatno Banyumurti, Direktur Eksekutif ICT Watch.

Sementara itu, Nadhila Renaldi (Dhea), Manager Kebijakan Publik Meta Indonesia, menekankan pentingnya menciptakan ekosistem digital bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Meta mendorong demokratisasi teknologi, khususnya AI, agar dapat dimanfaatkan oleh semua kalangan tanpa terkecuali guna memastikan inovasi yang kami kembangkan relevan dan bermanfaat bagi setiap lapisan masyarakat,” ujarnya.

Pembukaan pelatihan ini turut dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Komisi Nasional Disabilitas (KND), Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), serta Kementerian Sosial (Kemensos).

Komisioner Komisi Nasional Disabilitas, Jonna Aman Damanik, dalam sambutannya menekankan bahwa AI hadir sebagai tawaran solusi bagi penyandang disabilitas.

 

“Kita harus beradaptasi dengan kemajuan teknologi agar kehidupan menjadi lebih baik, serta ruang dan peluang dalam berbagai aspek hidup semakin terbuka lebar,” tuturnya.

Kemkomdigi memberikan apresiasi atas penyelenggaraan pelatihan ini, yang merupakan langkah peningkatan literasi teknologi yang penting bagi masyarakat Indonesia di era transformasi digital.

“Pelatihan ini sangat penting agar kita memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk memahami bagaimana kecerdasan artifisial bekerja. Sehingga kita tidak lagi menjadi objek oleh teknologi, tetapi menjadi subjek yang mampu menuntut transparansi dan akuntabilitas dari penyedia teknologi kecerdasan artifisial,” kata Direktur Kecerdasan Artifisial dan Ekosistem Teknologi Baru Kemkomdigi, Aju Widyasari.

Sebagai bagian dari rangkaian program ini, pelatihan selanjutnya dijadwalkan akan diselenggarakan di Bandung pada 22 Januari 2026 mendatang.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Ototekno lainnya