JAKARTA – Perjalanan mudik jarak jauh dengan melewati jalan tol dapat menyimpan banyak risiko. Salah satunya adalah microsleep. Ini merupakan gangguan yang kerap menyerang pengemudi dan bisa berakibat kecelakaan fatal.
Microsleep adalah kondisi saat pengemudi tertidur dalam waktu yang sangat singkat, meski tampak seperti dalam keadaan sadar. Kondisi ini sangat berbahaya dan bisa membuat pengemudi kehilangan kendali.
Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia, Sony Susmana, mengatakan microsleep berbeda dengan mengantuk. Sebab, mengantuk saat mengemudi masih bisa dimanipulasi dengan minum, makan makanan ringan, bernyanyi, dan lain-lain.
“Kondisi ini datang ketika fisik kelelahan akibat mengemudi selama berjam-jam. Tidak ada aktivitas yang efektif untuk mengobatinya selain beristirahat yang cukup,” kata Sony saat dihubungi MNC Portal Indonesia, beberapa waktu lalu.
Karena itu, manajemen perjalanan sangat penting bagi pelaku mudik Lebaran 2024 agar tidak mengalami kecelakaan. Selain beristirahat di perjalanan, mempersiapkan diri sebelum melakukan perjalanan juga sangat penting.
“Kunci dari melakukan long trip adalah istirahat berkala, kalau menggunakan sistem target bahaya sekali. Jadi, kalau ingin Lebaran di tempat tujuan tepat, maka dua hari sebelumnya sudah melakukan perjalanan. Target seperti itu baru benar. Tapi, kalau berharap satu hari perjalanan sampai tempat tujuan, pasti akan stres,” ujarnya.
Sony menyampaikan, pemudik yang menggunakan mobil pribadi harus bisa mengatur jadwal istirahat. Menurutnya, itu sangat perlu dilakukan seorang pengendara agar perjalanan lebih aman.
“Ini penting banget, karena banyak sekali kecelakaan ketika memaksakan untuk mengemudi. Atur jadwal istirahat, meski hanya berhenti di rest area untuk meregangkan tubuh dan sebagainya, kondisi psikis kita akan memengaruhi cara mengemudi,” ucapnya.
Kondisi mental seorang pengemudi, kata Sony, bakal terkuras jika memaksakan berkendara dalam waktu yang lama. Pasalnya, mereka hanya fokus berkendara dan tak bisa melakukan aktivitas lainnya di dalam mobil seperti penumpang lain.
“Di dalam kabin itu kan fisibilitas terbatas dan kita juga merasa dikungkung di dalam ruangan. Artinya kita harus istirahat, kemudian menghirup udara agar aliran darah lancar. Bahkan, kita harus menstimulasi penglihatan dan penciuman,” tuturnya.
(Erha Aprili Ramadhoni)