TEL AVIV - Startup kenamaan Israel, Sightful belum lama ini telah meluncurkan gebrakan baru di bidang teknologi. Hal tersebut diwujudkan lewat peluncuran produk mereka berupa laptop Augmented Reality (AR) tanpa layar monitor secara fisik pertama di dunia. Masih di tahun ini, laptop bernama Spacetop tersebut pertama kali diperkenalkan pada 18 Mei lalu.
Dilansir dari situs CTech, Rabu (25/10/2023), selain keyboard berukuran sebesar 13 inci, penggunaan Spacetop disertai kacamata AR dengan lensa khusus yang bermagnet dan berukuran relatif kecil. Keberadaan kacamata AR tersebut menjadikan laptop mampu membuka 8 hingga 10 layar monitor virtual secara bersamaan selayaknya laptop berukuran 100 inci.
Maka dari itu, target pasar laptop ini sendiri merujuk pada kalangan profesional seperti dokter bedah, ahli cyber, trader, ahli IT, hingga personil militer yang bekerja dengan menggunakan banyak layar monitor setiap harinya.
Hal ini sejalan dengan pernyataan CEO Sightful, Tamir Berliner yang berpendapat bahwa laptop AR ini akan menjadi awal dari masa depan komputasi yang jelas. Menurutnya, akan tiba saat dimana semua tugas elektronik dilakukan dengan memicingkan mata melalui kacamata AR seperti yang diterapkan pada Spacetop.
“Kami menantikan hari ketika kita melupakan laptop yang kita miliki saat ini,” kata Berliner, dikutip dari The Verge.
Terakhir kali, Spacetop dikabarkan baru tersedia di AS, dimana semua persetujuan peraturan telah diterima. Jumlah unit yang ditawarkan juga terbatas hanya 1000 unit saja bagi pengguna web-forward.
Pembatasan jumlah produksi unit dimaksudkan untuk menerima masukan dari pengguna sebelum nantinya diproduksi secara massal. Untuk harga yang dibanderol per unitnya sendiri berada pada kisaran 2.000 dolar AS atau sekitar Rp30 juta rupiah.
Di sisi lain, Sightful sebagai perusahaan perancang Spacetop yang sekaligus telah menjadi laptop AR tanpa layar monitor pertama di dunia ini telah mempekerjakan 60 orang di kantornya di Tel Aviv.
Hingga saat ini, perusahaan tersebut telah mengumpulkan keuntungan mencapai 61 juta Dolar AS (sekitar Rp967,5 miliar) dalam dua putaran, yang terakhir diselesaikan pada awal tahun ini. ( )
(Saliki Dwi Saputra )