Wilson mengatakan saat ini sudah ada tiga pemain yang aktif dalam hal battery swap, yakni OICA, Swap, dan SGB. Namun, Wilson menegaskan bahwa standarisasi baterai motor listrik memang sangat sulit, dan belum ada yang berhasil melakukannya.
Ini menimbulkan keraguan tersendiri bagi para produsen apakah Indonesia dapat melakukan hal tersebut. Terlebih, peredaran sepeda motor listrik di Indonesia belum begitu masif.
“Standarisasi baterai ini memang masih banyak kendala. Belum ada pemain global yang berhasil melakukan standarisasi baterai. Dunia pun juga belum (melakukan standarisasi baterai),” ujar Wilson.
Berdasarkan hasil diskusi terbaru, Wilson mengungkapkan bahwa standarisasi baterai dikeluhkan produsen akan merusak inovasi. Pasalnya, mereka harus menyesuaikan baterai yang sudah ada sehingga menghambat pengembangan.
“Kendala kedua dianggap standarisasi baterai ini merusak inovasi, jadinya kita merasa dibatasi dengan ketentuan-ketentuan yang sudah dilakukan. Misalnya colokannya harus demikian, dimensinya harus demikian, dan sebagainya,” ucapnya.
Oleh sebab itu, Wilson merasa pemerintah harus bekerja keras untuk meyakinkan produsen mengenai standarisasi baterai. Pasalnya, di sisi lain hal ini dapat membantu meningkatkan perkembangan di industri motor listrik.
“kita bisa mengadopsi multi standar. Jadi standarnya itu bisa bermacam-macam, tidak satu. Saat ini Badan Standardisasi Nasional (BSN) sudah menentukan 11 macam standar baterai. Jadi APM bisa memilih minimal satu standar saat masuk ke Indonesia,” ungkapnya.
(Imantoko Kurniadi)