JAKARTA – Salah satu alasan pemerintah di berbagai belahan dunia menggenjot mobil listrik adalah karena alasan menjaga lingkungan tetap bersih.
Sedangkan alasan lainnya adalah karena biaya yang dikeluarkan untuk pengisian daya lebih terjangkau dibanding bahan bakar minyak. Tapi, benarkah pengisian daya mobil listrik benar-benar murah?
Dikutip dari laman Carbuzz, Anderson Economic Group (AEG) baru-baru ini merilis temuan mengejutkan terkait dengan pengisian BBM dianggap lebih murah dibanding dengan pengisian daya mobil listrik untuk kelas menengah.
Hasil studi yang cukup mencengangkan itu dilakukan pada kuartal keempat tahun 2022. Hasil temuan itu didasarkan pada biaya yang dikeluarkan pengemudi sejauh 100 mil atau (16,9 km) hanya mengeluarkan biaya sebesar USD 11,29 atau sebesar Rp169 ribu.
Menurut lembaga ini, jumlah tersebut lebih rendah USD 0,31 atau sebesar Rp4.643 dibanding biaya mengisi daya mobil listrik apabila dilakukan di rumah. Sedangkan ketika mengisi daya secara komersial, cost BBM lebih murah USD 3 atau sebesar Rp44.932.
Hasil studi tersebut ingin mengatakan bahwa efisiensi mobil listrik masih dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari lingkungan atau tempat tinggal.
Meski demikian, AEG belum merilis mobil jenis apa yang digunakan untuk membandingkan antara mobil dengan mesin pembakaran internal dan mobil listrik.
Hasil studi juga berbeda untuk pemilik mobil listrik kelas atas seperti Porsche Taycan. Segmen mobil listrik mewah ini jelas lebih hemat jika dibandingkan dengan mobil dengan pembakaran internal.
Hasil studi tersebut dianggap belum dapat membandingkan antara mobil listrik dan BBM karena masih banyak produsen mobil listrik sedang mengembangkan produk elektriknya agar mendapat hasil yang lebih hemat.
“Meningkatnya harga bahan bakar membuat EV terlihat seperti barang yang sangat menggiurkan selama 2021 dan 2022. Dengan harga listrik naik dan harga bensin turun, pengemudi kendaraan ICE menghemat sedikit uang pada kuartal terakhir tahun 2022,” kata perwakilan AEG Patrick Anderson, dikutip dari Carbuzz.
Agar dapat mendapat hasil yang presisi, AEG turut menjadikan cost BBM, pajak, biaya operasi pompa BBM dan SPBU menjadi variable yang mempengaruhi.
Selain itu, faktor mobil listrik yang menjadi masalah bagi motor listrik adalah karena masih dalam tahap memperbanyak infrastruktur. Sehingga muncul masalah mengantre di stasiun pengisian daya.
AEG menilai, banyaknya variabel ini harus dihitung sebelum mengklaim pengisian daya mobil listrik lebih mahal dibanding BBM.
(Citra Dara Vresti Trisna)