JAKARTA - Kelompok hacker Anonymous kembali beraksi di tengah konflik antara Pemerintah Iran dengan warganya yang menyebabkan seorang wanita bernama Mahsa Amino meregang nyawa.
Lewat beberapa akun di media sosial Twitter, kelompok hacker tersebut mendeklarasikan dukungannya terhadap warga Iran dan menyerukan bahwa mereka akan melancarkan operasi siber di bawah tagar #OpIran.
Tidak lama setelah Anonymous mengumumkan genderang perang, dua situs web utama Pemerintah Iran dan beberapa situs media yang didukung Pemerintah diretas sehingga tidak bisa lagi diakses.
Ini termasuk juga situs web 'layanan pintar' pemerintah, di mana di situs tersebut sejumlah layanan online ditawarkan dan diterbitkan berita-berita pro pemerintah serta kumpulan video wawancara dengan pejabat.
"Media Iran terbesar sedang diretas. Semua database telah dihapus," kata sebuah tweet dari akun Twitter resmi Anonymous yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.
Dikutip dari Metro, Sabtu (1/10/2022), beberapa situs web lain, termasuk laman web televisi pemerintah Iran, juga diserang dan dimatikan selama beberapa waktu.
Kendati demikian, sesekali situs kembali normal, menandakan bahwa terjadi pertarungan antara hacker dan pemerintah.
Anonymous juga mengklaim telah menjatuhkan Bank Sentral Iran dan Kantor Berita Fars.
Dan ujungnya adalah rakyat Iran menjadi korban pemadaman internet oleh pemerintah karena semakin besarnya protes yang dilayangkan.
Baru-baru ini, akun Anonymous memberikan tips kepada warga Iran agar mereka bisa lepas dari kekangan Pemerintah dalam berinternet. Tips diberikan lewat sebuah cuitan di akun @YourAnonOne.
“Setelah Instagram, WhatsApp sekarang dibatasi di Iran. Warga Iran yang terhormat, gunakan «Tor» untuk melewatinya," ujar Anonymous.
Diketahui, protes di Iran masih terus berlangsung hingga saat ini. Gelombang protes sangat besar mengingat Mahsa Amini meninggal dalam tahanan polisi setelah ditangkap oleh 'polisi moral' karena tidak mengenakan jilbab dengan benar.
Dia dilarikan ke rumah sakit beberapa jam setelah ditahan dan dinyatakan gegar otak setelah menderita tengkorak retak dan pendarahan internal saat dalam tahanan. Polisi mengklaim dia meninggal karena serangan jantung.
(Ahmad Muhajir)