7 Kesalahpahaman Tentang Kematian yang Jarang Diketahui

Syifa Fauziah, Jurnalis
Senin 29 Agustus 2022 14:07 WIB
7 kesalahpahaman tentang kematian yang jarang diketahui (Foto: iStock)
Share :

JAKARTA - Ada banyak kesalahpahaman tentang kematian yang ternyata banyak orang tidak tahu. Mulai dari kondisi tubuh usai dinyatakan meninggal hingga hal-hal lainnya.

Untuk itu, simak rangkuman tentang tujuh kesalahpahaman tentang kematian ini, sebagaimana dilansir dari Mental Floss, Senin (29/8/2022).

1. Kuku dan rambut akan tetap tumbuh usai kematian

Beberapa orang berpendapat bahwa secara teknis kuku dan rambut mungkin tumbuh sedikit setelah kematian karena sel-sel kulit tidak membutuhkan oksigen sebanyak organ lain. Kuku membutuhkan glukosa untuk tumbuh.

Mitos ini kemungkinan berakar pada kenyataan bahwa setelah kematian, kulit mulai mengencang dan menyusut karena dehidrasi. Perubahan itu bisa menyebabkan kuku tampak tumbuh. Jenggot wajah juga bisa tampak lebih menonjol, tetapi itu karena kulit mengering, bukan karena folikel tumbuh.

2. Mati dalam keadaan tidur dianggap lebih damai

Pastinya kita berharap saat ajal menjemput dalam keadaan baik-baik saja bukan karena kecelakaan atau pembunuhan. Salah satu kematian yang dianggap tenang dan damai adalah saat tertidur.

Misalnya saja kematian seseorang yang disebabkan aritmia jantung atau aneurisma otak yang secara mendadak dan tidak menyebabkan sakit.

Namun, bisa saja saat seseorang menderita serangan jantung atau masalah pada tubuhnya, mereka mengalami kesakitan yang cukup parah sebelum menuju kematian.

Hal itu bisa terlihat dari barang-barang di sekitarnya yang berantakan sebagai tanda mereka menahan kesakitan saat menjelang ajal.

3. Jenazah dapat menularkan penyakit berbahaya

Banyak orang yang menggap ketika seseorang meninggal karena penyakit menular, bisa menyebarkan virus itu saat kita berada di dekatnya. Namun nyatanya hal itu tidak benar.

Para ahli keselamatan di Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja, atau OSHA, berpendapat tidak ada risiko langsung penularan atau penyakit menular saat berada di dekat jenazah manusia bagi mereka yang tidak terlibat langsung dalam pemulihan atau lainnya.

Misalnya saja seseorang yang meninggal karena hepatitis B dan C, HIV, dan berbagai bakteri tidak menimbulkan risiko bagi seseorang yang berjalan di dekatnya, juga tidak menyebabkan pencemaran lingkungan.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Ototekno lainnya