Abdul Rachman menerangkan, terkait fenomena komet melintas bumi, melalui riset dapat dipelajari kemungkinan jatuhnya komet tersebut ke bumi.
Dalam kasus K2 ini, komet melintasi bumi pada jarak lebih dari 270 juta kilometer sehingga tidak berdampak apa-apa ke bumi. Kemudian dikarenakan melintasnya cukup jauh dari Bumi yakni sekira 2 kali jarak matahari-Bumi, maka tidak ada efek negatif yang ditimbulkan.
Baca juga: Komet Leonard Siap Melintas Dekat Bumi Bulan ini
"Pengamatan Komet K2 di BPON dilakukan di Kantor Operasional dan Pusat Sains di Desa Oelnasi selama beberapa hari sejak 13 hingga 16 Juli 2022. Setiap hari pengamatan itu dilakukan akuisisi hingga beberapa jam. Data yang terkumpul selain bisa dianalisis untuk keperluan riset, bisa juga digunakan untuk astrofotografi," ungkapnya.
"Untuk pengamatan digunakan teleskop yang memakai cermin berukuran 25 sentimeter dan detektor CCD yang dilengkapi dengan beberapa buah filter warna," terangnya.
Sementara Kepala Pusat Riset Antariksa Emanuel Sungging mengungkapkan bahwa data hasil pengamatan ini dapat dimanfaatkan untuk riset, tidak hanya oleh peneliti BRIN, tetapi semua yang tertarik untuk mempelajari dinamika benda-benda di dalam tata surya.
Baca juga: Komet Raksasa Ditemukan, Diameternya Capai 150 Km
"Dari perwujudan kedua ekor komet (debu dan gas) yang bisa diamati dapat diperoleh pemahaman pada sifat intrinsik komet, serta pada bagaimana kondisi cuaca antariksa pada saat itu," jelasnya.
"Selain itu dari perjalanan komet, setidaknya sampai Desember 2022, bisa dilihat apakah komet tersebut mengakhiri hidupnya dengan menghujam ke matahari? Ataukah melanjutkan lintasannya keluar dari tata surya? Lalu bagaimanakah perjalanannya kemudian?" lanjutnya.