"Wombat umumnya merupakan spesies soliter dan cukup agresif. Mereka memiliki pelat fasia besar di area pantat mereka. Ini memungkinkan mereka memblokir area masuk ke liang jika merasa terancam. Area itu memiliki sedikit ujung saraf, jadi meskipun predator menggigitnya, wombat tidak akan terluka," kata Monique Spaulding dari Suaka Margasatwa Bonorong di Tasmania.
Spaulding menjelaskan, bulu yang menutupi lempeng fasia pendek agar wombat tidak dapat ditarik dari liangnya.
Ketika predator mendekat, wombat akan berbaring di pintu masuk liang yang memungkinkan pemangsa menyelipkan kepalanya ke celah antara pelat dan atap liang.
"Atap liang biasanya terbuat dari tanah yang sangat padat, seperti akar pohon, batang kayu, atau batu. Begitu kepala predator berada di celah, wombat akan membanting pantatnya berulang kali dengan kekuatan yang cukup berpotensi menghancurkan tengkorak kepala predator itu," papar Spaulding.
Oleh karena itu, wombat juga disebut "buldoser" karena gaya hidupnya benar-benar mencerminkan hal ini.
(Ahmad Muhajir)