Karena nilai deklinasi Matahari sama dengan lintang geografis wilayah Indonesia, lanjut dia, maka Matahari bakal berada tepat di atas kepala saat tengah hari.
"Ketika Matahari berada di atas Indonesia, tidak ada bayangan yang terbentuk oleh benda tegak tidak berongga saat tengah hari, sehingga fenomena ini dapat disebut sebagai Hari Tanpa Bayangan Matahari," terang dia.
Disebutkan, hari tanpa bayangan Matahri terjadi dua kali setahun untuk kota-kota yang terletak di antara Garis Balik Utara (Tropic of Cancer; 23,4 derajat) dan Garis Balik Selatan (Tropic of Capricorn; 23,4 derajat).
Sementara, kota-kota yang terletak tepat di Garis Balik Utara dan Garis Balik Selatan akan mengalamai hari tanpa bayangan hanya sekali setahun, yakni ketika Solstis Juni (21-22) atau Soltis Desember (21-22).
"Di luar wilayah tersebut, Matahari tidak akan berada di atas kepala kita (zenit) ketika tengah hari sepanjang tahun," tutur Andi.
(Ahmad Muhajir)