Para pakar kesehatan menyarankan agar di tengah pandemi Covid-19 ini, kita rutin mengasup vitamin D. Adakah penjelasan ilmiahnya?
Sebuah studi baru mengungkap bahwa tingkat rata-rata konsumsi vitamin D yang rendah memengaruhi peningkatan kematian Covid-19. Hal tersebut berdasarkan data dari 20 negara di Eropa.
Dilansir dari laman Tech Explorist, vitamin D berfungsi mengatur respon sel darah putih, mencegahnya melepaskan sejumlah besar sitokin inflamasi. Virus Covid-19 diketahui menyebabkan kelebihan sitokin proinflamasi.
Italia dan Spanyol menjadi dua negara di Eropa yang telah melaporkan kasus Covid-19 cukup tinggi. Sebuah penelitian melaporkan, pasien di kedua negara memiliki kadar vitamin D yang lebih rendah daripada negara-negara Eropa Utara.
Baca juga: Kena Covid-19, Ini 3 Buah dan Makanan yang Tingkatkan Daya Tahan Tubuh
Tingkat rata-rata tertinggi vitamin D ditemukan di Eropa Utara, karena konsumsi minyak ikan cod, suplemen vitamin D, dan sinar matahari. Negara-negara Skandinavia adalah wilayah dengan jumlah kasus Covid-19 terendah di Eropa.
“Kami menemukan hubungan yang signifikan antara rata-rata kadar vitamin D dan jumlah kasus Covid-19, dan khususnya tingkat kematian Covid-19, per kepala populasi di 20 negara Eropa," kata pengamat Aktivitas Fisik dan Kesehatan Masyarakat di Universitas Anglia Ruskin, Lee Smith.
Smith menambahkan bahwa vitamin D telah terbukti melindungi infeksi pernapasan akut. "Vitamin D juga ampuh melindungi para lansia (lanjut usia) yaitu kelompok yang paling kekurangan vitamin D, juga yang paling parah terkena dampak Covid-19," tambah Smith.
Ia melanjutkan sebuah studi sebelumnya menemukan bahwa 75% lansia di rumah sakit dan rumah perawatan, sangat kekurangan vitamin D.
"Kami menyarankan untuk melakukan penelitian khusus melihat tingkat vitamin D pada pasien Covid-19 dengan tingkat keparahan penyakit yang berbeda-beda," tambahnya.
(Kemas Irawan Nurrachman)