JAKARTA- Radioaktivitas merupakan tindakan memancarkan radiasi secara spontan yang dilakukan oleh inti atom. Pemancaran tersebut karena alasan tertentu, baik karena inti atom tidak stabil atau ingin melepaskaan energi untuk beralih menjadi lebih stabil.
Mengutip laporan Advisory Committee on Human Radiation Experiments (ACHRE), Selasa (18/2/2020) selama paruh abad kedua puluh, banyak fisika modern yang telah dikhususkan untuk mengekplorasi mengapa radioaktivitas terjadi, yang dipahami dengan peluruhan nuklir pada 1960.
Lengkapnya saat terjadi pancaran radiasi, ada terlalu banyak neutron dalam inti atom yang menyebabkannya adanya pemancaran partikel beta negatif, yang mengubah salah satu neutron menjadi proton.
Terlalu banyak proton dalam nukleus memancarkan positron (elektron bermuatan positif), mengubah proton menjadi neutron. Kemudian, terlalu banyak energi menuntun inti untuk memancarkan gammaray, yang membuang energi besar tanpa mengubah partikel apa pun di dalam nukleus. Massa yang terlalu banyak menyebabkan inti untuk memancarkan partikel alfa, membuang empat partikel berat (dua proton dan dua neutron).
Bagaimana radioaktivitas diukur?