JAKARTA - Peralihan kebiasaan masyarakat dalam mencari informasi serta berbelanja melalui platform daring (online) juga terasa dalam industri otomotif. Fenomena tersebut juga mendorong Toyota untuk menyiapkan teknologi serta layanan penjualan modelnya dengan platform online.
Sejauh ini ketersediaan laman resmi Toyota memang belum dapat melengkapi layanan pembelian secara online. Namun, secara umum calon konsumen bisa mendapatkan informasi terkait produk kendaraan yang sesuai melalui laman dari Toyota Indonesia.
Sebagai pemegang merek di Tanah Air, tren pencarian informasi dan potensi melayani pelanggan secara daring dirasakan oleh PT Toyota Astra Motor. "Bahkan dalam beberapa kasus konsumen mengetahui model secara umum dari media daring kemudian menuju ke dealer untuk memastikan kondisi barang," ujar Marketing Director PT TAM, Anton Jimmi Suwandy.
Ketiadaan fasilitas transaksi secara daring dalam laman resmi diakui Anton sebagai sebuah kekurangan. Tetapi, pihaknya sudah menyediakan fitur dalam memenuhi pertanyaan konsumen. "Di laman tersebut ada chatbot dan itu baru mulai, ke depannya ingin kami kembangkan secara optimal," katanya.
Tren pencarian informasi melalui laman maupun sumber informasi secara online berpengaruh pada kemungkinan menjaring konsumen potensial di masa mendatang. "Berdasarkan dari hasil survei lebih dari 60 persen konsumen mencari info mobil, baik komparasi serta data. Ketika mereka ke dealer tinggal dalam kondisi membuat keputusan membeli," ujar Anton.
Angka konsumen yang mencari informasi secara digital atau online tersebut melonjak dari sekitar 20 persen dibanding 10 tahun yang lalu. Anton memperkirakan penyebabnya adalah ragam konten termasuk media sosial yang menyajikan informasi terkait kendaraan bermotor termasuk produk Toyota.
Anton sendiri mengakui sudah ada proses pembelian mobil baru Toyota berbasis platform digital. Namun, jumlah transaksinya masih tergolong kecil dibandingkan penjualan secara umum. "Mungkin kurang dari lima persen. Memang ada tenaga penjualan dengan penjualan lewat ponsel dua atau tiga dari total 20 unit hampir tidak bertemu dengan konsumennya," ujarnya.
(Mufrod)