JAKARTA- Gubernur Nusa Tenggara Timur, NTT, Viktor Laiskodat berencana untuk menutup Pulau Komodo pada Januari 2020 selama setahun. Keputusan ini didorong oleh berita baru-baru ini tentang pencurian dan penyelundupan Komodo ke luar negeri.
Kabarnya Komodo dijual kepada mereka yang ingin menggunakannya untuk membuat obat antibiotik. Dilansir dari laman Washington Post, Kamis (4/4/2019) menilik lebih dalam Komodo memang telah ada selama ratusan tahun. Sebagian alasan komodo telah hidup lebih lama dari spesies lain karena gigitannya yang sangat berbisa, yang sangat beracun bahkan satu gigitan pun bisa berakibat kematian.
Baca Juga: NASA Berencana Kirim Astronot ke Mars pada 2033
Hewan ini juga memiliki sifat unik lain darah mereka dikemas dengan peptida antimikroba yang mampu menjadi pertahanan bawaan terhadap infeksi yang dihasilkan oleh semua makhluk hidup. Ini membuat komodo kebal terhadap gigitan komodo lainnya. Komponen sistem imun ini lah yang kabarnya menarik penjualan Komodo.
Beberapa ilmuwan juga percaya peptida ini dapat dimanfaatkan menjadi antibiotik untuk melindungi manusia. Tetapi Bryan Fry, seorang associate professor di sekolah sains biologi Universitas Queensland, mengatakan bahwa proses menjadikannya anti biotik ini lebih rumit dan kurang masuk akal.
Tidak cukup diketahui tentang senyawa kimia yang digunakan komodo untuk melawan infeksi, dan menggunakan darah mereka secara langsung tidak akan berguna dalam mengobati infeksi manusia, Fry menjelaskan memurnikan senyawa dalam darah mereka akan sulit dan bahkan kemudian akan ada kemungkinan reaksi alergi yang hebat akan sangat tinggi.
Baca Juga: Peneliti Temukan Petunjuk Baru Keberadaan Air di Mars