"Tanpa isolasi geografis, kemungkinan besar hal ini tidak akan pernah terjadi karena Anda tidak melihat hibrida tersebut berkembang sebagai spesies terpisah di daerah lain, di mana kedua asal spesies bertemu," tuturnya.
Baca juga: Mengapa Burung Beo Bisa Berbicara?
Penemuan tersebut berlangsung setelah tim penelitian meluncurkan dua ekspedisi terpisah ke Brasil. Mereka mengumpulkan sampel genetik dan bulu, lalu mengurutkan sebagian besar genom manakin bermahkota emas.
Temuan yang akan dipublikasikan di jurnal PNAS itu mengungkap, 80% genom manakin bermahkota emas berasal dari manakin bermahkota opal, dan 20% sisanya dari manakin bertopi salju. Mereka mengatakan, keturunan pertama hibrida lahir sekira 180.000 tahun lalu, ketika burung dari dua spesies tersebut dikawinkan.
Penampilan tiga spesies ini sangat mirip. Namun, manakin bermahkota emas, memiliki kepala berbulu kuning yang kusam, sementara orangtuanya (manakin bertopi salju dan manakin bermahkota opal) masing-masing mempunyai bulu putih cerah dan berwarna-warni.