Setelah penelitian tersebut muncul, banyak pertanyaan lain yang timbul pada pikiran mereka, seperti apakah tanaman juga dapat tidur. Agar hewan dapat diklasifikasikan sedang tidur, mereka harus menunjukkan ketidakaktifan dan penurunan respon terhadap sebuah rangsangan.
Untuk menguji hal tersebut, tim menyiapkan sebuah kamera untuk melacak berapa kali ubur-ubur berdenyut dalam 24 jam. Ternyata, ubur-ubur melewati periode berdenyut pada malam hari, di mana mereka berdenyut 39 kali per menit jika dibandingkan sekira 58 kali denyutan per menit pada siang hari.
Tim tersebut juga menguji respon ubur-ubur terhadap rangsangan dengan cara mengganggu aktivitas mereka secara brutal. Para peneliti memasang platform di tangki ubur-ubur yang sedang beristirahat pada siang hari.
Ketika para peneliti mengangkat platform tersebut, ubur-ubur dengan cepat berenang ke dasar tangki yang baru. Tim melakukan eksperimen yang sama di malam hari ketika ubur-ubur sedang ‘tidur’, mereka mendapati bahwa ubur-ubur menjadi jauh lebih lambat untuk berpindah ke dasar tangki.
(Ahmad Luthfi)