Selama kuliah, ia mengaku kurang sreg dengan bidang yang dipelajari, sehingga mencoba menggali kembali passion apa yang dimiliki seperti mengoprek 3D software yang digunakan saat mengerjakan tugas-tugas kuliah.
Dirinya pun menyadari bahwa software tersebut bisa diaplikasikan ke industri film dalam hal animasi dan visual effects.
Tanpa memiliki pendidikan formal dan pengalaman, Ronny pun membuat portofolio dan mencari pekerjaan di bidang yang diinginkannya yakni animasi.
Kisahnya dimulai dari sini, Ronny melancong ke Batam saat mendapat panggilan kerja sebagai animator untuk mengerjakan proyek film ‘Sing to the Dawn’, sebuah proyek kolaborasi antara studio animasi di Batam dengan perusahaan Singapura.
Film tersebut pun rilis di Singapura dan Indonesia dengan judul ‘Merah Mimpi’. Setelah mendapat pengalaman kerja di Batam, ia akhirnya memutuskan untuk mencari pekerjaan di Singapura sebagai batu loncatan.