Dahsyat! Ini Penampakan Aktivitas Letusan di Matahari

Riani Angel Agustine, Jurnalis
Selasa 15 Agustus 2017 00:01 WIB
(Foto: Dailymail)
Share :

CALIFORNIA - Cuplikan spektakuler yang berhasil diabadikan tampak seperti sebuah letusan Matahari, namun kemudian ledakan tersebut berubah menjadi hal lainnya. Cuplikan tersebut memberikan pengetahuan tambahan bagi para ilmuwan mengenai lanskap magnetik Matahari.

Dilansir dari Dailymail.co.uk, Senin (14/8/2017), pada 30 September 2014, seperangkat alat-alat NASA (The National Aeronautics and Space Administration) melihat sesuatu seperti sebuah ledakan Matahari. Setelah kejadian tersebut, struktur serpentine yang dikenal sebagai filamen naik dari permukaan dan runtuh hingga hancur oleh kekuatan magnetik yang tak terlihat.

Sebuah studi tentang fenomena tersebut mengungkapkan bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh filamen yang mendorong struktur magnetik yang kompleks dan kemudian memakan filamen tersebut yang menyebabkan serpihan bahan surya menyemprot. Filamen adalah struktur serpentine yang terdiri dari bahan surya padat dan sering dikaitkan dengan erupsi Matahari.

Baca juga: Nih Fakta Seputar Matahari yang Belum Terungkap

Georgios Chintzoglou, seorang ahli fisika surya di Laboratorium Lockheed Martin Solar dan Astrofisika di Palo Alto, California, dan University Corporation for Atmospheric Research di Boulder, Colorado mengungkapkan alat di balik pengambilan cuplikan dahsyat tersebut. Ia melakukan pengamatan tersebut di Observatorium Dinamika Surya NASA, Spektrum Imaging Antarmuka Wilayah NASA (IRIS), Hinode JAXA / NASA, serta menggunakan beberapa teleskop berbasis darat untuk mendukung peluncuran roket VAULT2.0 yang didanai NASA.

Alat tersebut memantau Matahari pada panjang gelombang cahaya yang berbeda, menunjukkan permukaan Matahari dan atmoser yang lebih rendah dengan cara yang memungkinkan ilmuwan melacak erupsi melalui atmosfer Matahari. "Kami melihat filamen yang terangkat dengan IRIS, tetapi kami tidak melihatnya meledak di SDO atau di Coronagraph. Begitulah cara kami tahu itu gagal," Angelos Vourlidas, seorang astrofisikawan di Laboratorium Fisika Terapan Johns Hopkins dan penyidik utama VAULT2.0.

Pada saat itu, IRIS dan roket VAULT2.0 mengorbit di Bumi selama 20 menit untuk mengumpulkan data. Ketika letusan Matahari yang diharapkan terjadi, perangkat tersebut malah menangkap sebuah runtuhan.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Ototekno lainnya