"Mereka punya semuanya seperti nomor pemesanan, nama pemesan dan logo perusahaan yang saya pesan. Mereka terlihat seperti asli," kata Claire yang berasal dari Yorkshire ini seperti dikutip Mirror.co.uk, Minggu (9/11/2014).
Beruntung, Claire tidak mempercayai dan menelpon pihak travel terkait pesan elektronik yang ia terima. Setelah dijelaskan, diketahui bahwa pesan elektronik tersebut palsu dan tidak pernah diminta untuk membayar uang muka.
Hal yang sama juga dialami sejumlah pelanggan dari Amerika, Italia, dan Prancis.
Atas kejadian tersebut sejumlah pengusaha travel dan penyedia jasa layanan online langsung mengambil tindakan. Mereka melakukan perlindungan data konsumen dengan cara meningkatkan sekuriti di bidang teknik. "Kami sudah membuat kemanan tambahan di beberapa area," ujar Peter Kornelisse seorang pengusaha jasa travel dari Belanda.
Mereka juga menjamin, jika ada konsumen yang merasa dirugikan atas tindakan hacker tersebut, maka bisa melapor kejadian tersebut dan jika kehilangan uang bisa dilakukan pengembalian oleh perusahaan.
(Ahmad Dani)