JAKARTA - Marketing Manager MelOn Indonesia, Samuel May Ratifil berpendapat pembajakan tidak akan mati. Namun, pembajakan tetap bisa dikurangi dengan dukungan dari pemerintah.
"Kalau bilang bisa berkurang, pembajakan bisa saja berkurang. tapi kami butuh dukungan pemerintah," ujar Samuel di Jakarta, Rabu sore.
Samuel membuat perbandingan dengan Korea Selatan. Menurutnya, brand MelOn yang sejatinya berasal dari sana telah berdiri sejak pengunduhan ilegal masih diperbolehkan pemerintah setempat.
Namun beberapa lama berselang, pemerintah setempat pun mengeluarkan aturan yang melarang pengunduhan ilegal. "Di sinilah MelOn mulai naik, meskipun tetap saja ada yang membajak," ungkapnya.
"Pembajakan tidak akan mati karena tetap saja ada yang peretas-peretas yang melakukan pembobolan," paparnya.
Di Indonesia, MelOn hadir melalui joint venture PT Telekomunikasi Indonesia dengan SK Telecom dari Korea Selatan. Portal musik digital ini menyajikan berbagai lagu orisinil via kerjasama dengan 55 label lokal dan 8 label internasional.
Portal musik digital ini menggunakan paket berlangganan untuk memikat penggunanya, sekaligus menangkal pembajakan. Pengguna MelOn bisa mengunduh lagu sepuasnya selama sebulan dengan membayar Rp 10 ribu, namun lagu tersebut hanya bisa didengarkan selama masa aktif saja.
Selain itu, lagu yang diunduh dari MelOn hanya bisa diputar menggunakan MelOn Player. Tapi MelOn juga menyediakan lagu secara a la carte (satuan) dengan tarif per lagu dan berformat mp3, sehingga bisa dimainkan dimanapun.
Samuel mengatakan, saat ini MelOn telah mencatat sekira 300 ribu pengguna aktif. Dari jumlah tersebut, 20 persennya adalah pengguna a la carte dan 80 persen adalah pengguna berlangganan.
(Yoga Hastyadi Widiartanto)