Banjir bandang lima tahunan di Jakarta kian dekat

, Jurnalis
Jum'at 18 November 2011 09:56 WIB
Banjir Jakarta/Ist
Share :

Sindonews.com - Saat ini ketinggian air di Pintu Air Manggarai sudah mencapai 740 cm dan masuk dalam kategori siaga empat. Kenaikan tinggi air ini imbas dari hujan deras di kawasan Bogor pada sore hingga semalam yang mulai sampai di kawasan Jakarta.

Banjir kiriman ini semakin memperbesar potensi terjadinya siklus banjir besar lima tahunan yang diprediksi bakal terjadi awal 2012. Pengamat lingkungan dari Institute Hijau Slamet Daryoni mengungkapkan potensi banjir besar lima tahunan bisa saja terjadi tahun 2012 nanti akibat daya dukung lingkungan di Jakarta yang makin turun.

"Potensi banjir besar lima tahunan menjadi ancaman bagi Jakarta ketika daya dukung lingkungan yang kian menurun. Selain itu, DKI juga dihadapkan pada tiga ancaman yang memungkinkan berulangnya siklus banjir bandang lima tahunan," terang dia dalam perbincangan dengan Sindo Radio, Jumat (18/11/2011).

Tiga ancaman itu adalah pertama, potensi banjir lokal di Ibu Kota akibat berkurangnya resapan air, sampah, dan sistem drainase yang buruk, ditambah pendangkalan sungai. Kedua, banjir kiriman dari wilayah penyangga yakni Bogor, Depok, dan sekitarnya akibat curah hujan yang tinggi. Ketiga, banjir rob yang melanda kawasan utara Jakarta.

Slamet menjelaskan, fenomena banjir di Jakarta bukan hanya karena faktor curah hujan yang tinggi, melainkan imbas menurunnya daya dukung lingkungan. "RTH di DKI tinggal 9 persen, sistem drainase amburadul dan tidak terintegrasi menjadi ancaman serius. 10-11 persen sampai DKI atau 1.000 ton tak terangkut, justru masuk kali dan gorong-gorong semakin memperparah banjir. Tak cuma itu, situ atau danau sudah beralih fungsi," beber dia.

Menurut dia, kendati setiap tahun anggaran untuk penanganan banjir naik, tapi tidak akan berdampak apa-apa jika penanganan banjir ini tidak terintegrasi satu sama lain, terutama dengan wilayah penyangga. Komunikakasi dan koordinasi antisipasi banjir dengan wilayah penyangga selama ini masih bermasalah.

Akibatnya, penanganan banjir ini tidak maksimal. "Pengerukan kali dan perbaikan gorong-gorong yang tak terintegrasi, sebatas tambal sulam yang hanya memindahkan banjir," imbuh Slamet.

Masih adakah harapan Jakarta bebas dari siklus banjir besar lima tahunan? "Kalau harapan, tentu masih ada. Namun tentunya harus ada upaya-upaya untuk mengantisipasinya sehingga tidak menimbulkan dampak yang besar bagi masyarakat," kata Slamet.

Apa yang harus dilakukan? Pertama, lakukan pemetaan terhadap lokasi-lokasi yang terdampak banjir pada kejadian banjir lima tahunan sebelumnya. Lakukan perbaikan dalam sanitasi di lingkungan warga. "Dan tingkatkan kesiapsiagaan dengan early warning system," jelasnya.

Lebih lanjut Slamet mengatakan, kepedulian masyarakat terhadap lingkungan harus ditingkatkan terutama dalam masalah sampah. Minimalisasi sampah yang terbuang ke sungai atau kali. Kemudian, perbanyak pembuatan sumur resapan atau biopori di lingkungan perumahan, disertai dengan penanaman pohon.

"Tak kalah penting adalah tindakan tegas dari pemerintah terhadap pihak-pihak yang menyalahi aturan tata ruang. Tidak adanya sanksi hukum berat dari P2B mengakibatkan wilayah selatan Jakarta yang semestinya menjadi wilayah hijau malah beralih fungsi menjadi komersil," ungkap Slamet.

Kata dia, pada akhirnya lemah pengawasan dan penindakan dari aparat terkait menjadikan konflik yang berkepanjangan. Sehingga, P2B tak berkutik dengan maraknya alih fungsi lahan.

Untuk mengangatisipasi banjir kali ini, Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta sudah menyiapkan 36 ribu karung pasir yang siap didistribusikan ke sejumlah lokasi banjir. Selain itu, pemerintah setempat kembali menggiatkan program bersih-bersih kali di wilayah DKI Jakarta yang terkenal digenangi banyak sampah.

Selain itu, Dinas PU juga telah melakukan pengerukan saluran di berbagai tempat, untuk menghindari kebuntuan. Tercatat, kurang lebih sudah 86 kali pengerukan dilakukan dari rentang tahun 2008-2010. Kemudian, dilakukan pembangunan tanggul di daerah-daerah rawan banjir, juga penanganan terhadap titik-titik genangan di DKI Jakarta.

Jakarta banjir lagi. Seperti itulah kondisi Ibu Kota Negara ini di kala musim penghujan tiba. Genangan air dan banjir kiriman sepertinya sudah menjadi nasib Jakarta. Entah kapan kondisi ini akan berakhir meski banyak rekayasa pembangunan untuk mengantisipai langganan banjir ini.

Bukan hanya fenomena pemanasan global, sehingga menaikan muka air laut. Pola pembangunan yang masif dan tidak ramah lingkungan kian memperparah kerusakan lingkungan, sehingga mengundang bencana banjir. Kini ancaman banjir besar lima tahunan menjadi momok yang menakutkan bagi warga Ibu Kota.

Jakarta pernah mengalami banjir hebat yakni pada 2007. Bencana ini menghantam Jakarta dan sekitarnya sejak 1 Februari 2007 malam hari. Selain sistem drainase yang buruk, banjir berawal dari hujan lebat yang berlangsung sejak sore hari tanggal 1 Februari hingga keesokan harinya tanggal 2 Februari.

Ditambah banyaknya volume air 13 sungai yang melintasi Jakarta yang berasal dari Bogor-Puncak-Cianjur, dan air laut yang sedang pasang, mengakibatkan hampir 60 persen wilayah DKI Jakarta terendam banjir dengan kedalaman mencapai hingga 5 meter di beberapa titik lokasi banjir.

Pantauan di 11 pos pengamatan hujan milik Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menunjukkan, hujan yang terjadi pada Jumat 2 Februari, malam lalu mencapai rata-rata 235 mm, bahkan tertinggi di stasiun pengamat Pondok Betung mencapai 340 mm. Hujan rata-rata di Jakarta yang mencapai 235 mm itu sebanding dengan periode ulang hujan 100 tahun dengan probabilitas kejadiannya 20 persen.

Banjir 2007 ini lebih luas dan lebih banyak memakan korban manusia dibandingkan bencana serupa yang melanda pada tahun 2002 dan 1996. Sedikitnya 80 orang dinyatakan tewas selama 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau sakit.

Kerugian material akibat matinya perputaran bisnis mencapai triliunan rupiah, diperkirakan 4,3 triliun rupiah. Warga yang mengungsi mencapai 320.000 orang hingga 7 Februari 2007.


(Dadan Muhammad Ramdan)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Ototekno lainnya