JAKARTA - Menghadapi hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H, Depkominfo mulai bergerak untuk mengecek kesiapan sejumlah operator dalam menghadapi mudik tahun ini.
Seperti tahun lalu, Plt Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar selaku Ketua BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia) akan memberangkatkan beberapa mobil operasional yang dilengkapi sejumlah alat dan perangkat pengukuran kualitas layanan telekomunikasi, beserta rombongan tim peninjauan lapangan.
Tim yang beranggotakan pejabat dan staf dari Ditjen Postel/BRTI, serta sejumlah penyelenggara telekomunikasi itu dilepas dari halaman kantor Ditjen Postel Gedung Sapta Pesona Jakarta, Senin (14/9/2009). Untuk pertama kalinya, rombongan kali ini turut mengikutsertakan unsur dari ID-TUG dan YLKI.
"Rombongan tim peninjauan lapangan ini akan terbagi dalam beberapa kelompok sesuai tujuan peninjauan," ujar Gatot.
Kelompok pertama dengan rute dari Jakarta menuju ke Cianjur dan Garut. Kelompok kedua dari Jakarta ke Cikampek dan terus ke Cirebon. Kelompok ketiga dari Jakarta menuju Merak, dan kelompok terakhir (ini adalah rute baru) dari Semarang menuju Yogyakarta dan Solo.
BRTI tetap memandang perlunya pengecekan kualitas layanan telekomunikasi di lapangan, dengan alasan trafik telekomunikasi diperkirakan akan mengalami lonjakan yang sangat signifikan. BRTI tidak mau mengambil risiko untuk menghindari kemungkinan terburuk adanya gangguan tersebut dengan cara pengecekan kualitas layanan.
"Kami perkirakan pada tahun 2009 dari sampel ketiga penyelenggara telekomunikasi berdasarkan data yang dihitung pada saat puncak hari Idul Fitri adalah, PT Telkomsel suara 1,3-1,5 miliar/menit dan SMS 600-750 juta SMS/menit, PT Indosat suara 300 juta/menit dan SMS 383 juta SMS/menit. Sedangkan XL, trafik suara mencapai 1,1 miliar/menit dan 150 juta SMS/menit," urai Gatot.
Keseriusan Ditjen Postel/BRTI ini tidak dapat dilepaskan dari jumlah pengguna layanan seluler dan FWA (Fixed Wireless Access) yang terus meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir ini, khususnya sejak adanya penurunan tarif telekomunikasi pada bulan April 2008 yang lalu.
Sehingga meskipun tarifnya sangat kompetitif satu sama lain, namun kualitas layanan tetap harus dimonitor secara intensif. Data jumlah nomor yang digunakan, bukan data jumlah pengguna, karena 1 orang berpotensi memiliki 1 atau lebih dari 1 perangkat telekomunikasi seluler dan FWA.
(Susetyo Dwi Prihadi)