Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Apakah Aman jika Kendaraan Sering Diisi Bensin Eceran? Ini Faktanya

Muhammad Fadhil Mubarok , Jurnalis-Selasa, 20 Oktober 2026 |12:39 WIB
Apakah Aman jika Kendaraan Sering Diisi Bensin Eceran? Ini Faktanya
Apakah Aman jika Kendaraan Sering Diisi Bensin Eceran? Ini Faktanya (Ilustrasi/@toprakrazgatlioglu7)
A
A
A

JAKARTA - Apakah aman jika kendaraan sering diisi bensin eceran? Fakta mengenai keamanan kendaraan jika sering isi bensin eceran bakal diulas. 

Membeli bensin eceran kerap menjadi pilihan bagi pengendara, terutama sepeda motor, ketika SPBU tidak ditemukan di sekitar atau saat kendaraan kehabisan bahan bakar di waktu yang mendesak. 

Namun, tidak sedikit yang menilai bahan bakar eceran berisiko merusak kendaraan, lantaran kualitasnya diyakini tidak sama dengan bensin yang dijual di SPBU.

Meski praktis, pengisian tangki kendaraan dengan bensin eceran sebaiknya dihindari. Selain karena penyedia jasa tersebut tidak mengantongi izin usaha, kualitas bahan bakar yang dijual pun tidak dapat dijamin.

Lalu, apa saja dampaknya bila pengendara terus mengisi bahan bakar di penjual BBM eceran? Berikut sejumlah bahaya bensin eceran yang perlu diwaspadai, sebagaimana dikutip dari laman My Pertamina, Selasa (20/10/2026): 

1. Risiko BBM Oplosan

Seperti telah diuraikan sebelumnya, mutu bensin maupun solar eceran tidak dapat dijamin. Berbeda dengan BBM di SPBU Pertamina yang kualitasnya senantiasa diawasi, bahan bakar eceran tidak melalui pengawasan serupa.

Minimnya kontrol membuat para penjual lebih leluasa bertindak. Sebagian oknum berpotensi melakukan praktik yang merugikan konsumen, salah satunya mengoplos BBM.

Dalam praktik pengoplosan, oknum hanya memasukkan sedikit BBM murni. Sisanya dicampur dengan bahan bakar yang tidak sesuai dengan kebutuhan kendaraan, baik berupa BBM berkualitas lebih rendah maupun zat lain seperti air, paint thinner, hingga minyak mentah.

2. Risiko Turunnya Kualitas BBM

Tidak semua penjual bensin eceran memilih mengoplos dagangannya. Namun, hal itu tidak serta-merta menjamin mutu bahan bakar tetap terjaga. Pasalnya, bensin eceran lazimnya dipajang dalam botol kaca bening di pinggir jalan dan terpapar sinar matahari secara langsung dalam waktu lama, tanpa penyimpanan yang memenuhi standar keselamatan maupun kualitas.

Paparan panas dan cahaya matahari tersebut dapat memicu perubahan komposisi kimiawi pada bensin. Sebagian senyawa yang mudah menguap berpotensi menguap lebih dulu, sehingga karakter bahan bakar berubah dan performa pembakaran di dalam mesin menurun. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mempengaruhi kinerja kendaraan dan mempercepat keausan komponen mesin.

3. Kerusakan Pompa Bensin

Penggunaan bensin eceran yang tidak murni dan berkualitas rendah dapat menyebabkan pompa bensin kendaraan rusak. Padahal, komponen ini bertugas penting, yakni menyalurkan bahan bakar dari tangki ke rel bahan bakar (fuel rail) di mesin. Dari situ, bensin disemprotkan ke intake port untuk selanjutnya dibakar.

Jika pompa bensin mengalami kerusakan, fungsi penyaluran tersebut tidak lagi berjalan dan komponen perlu segera diperbaiki atau diganti. Biaya yang harus dikeluarkan pun tergolong besar.

 

4. Kerusakan hingga Harus Turun Mesin

Dampaknya tidak berhenti pada knocking atau kerusakan pompa bensin. Mesin kendaraan pun berpotensi mengalami kerusakan yang lebih parah. Saat melaju di jalan, kendaraan bisa tiba-tiba mogok dan harus dibawa ke bengkel untuk menjalani overhaul atau turun mesin. Proses perbaikan tersebut tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit.

5. Berbahaya saat Pengisian

Sebagaimana dikutip dari laman Auto 2000 pengisian bensin eceran umumnya dilakukan dengan peralatan seadanya, sehingga berpotensi memicu kebakaran. Bensin merupakan bahan bakar yang sangat mudah terbakar, sehingga percikan api sekecil apapun, termasuk dari puntung rokok atau ponsel yang menyala, dapat menyulut api di sekitar lokasi.

Risiko tersebut kian besar karena kios atau warung penjual bensin eceran pada umumnya tidak dilengkapi alat pemadam api ringan (APAR) yang memadai. Berbeda dengan SPBU yang menerapkan standar keselamatan ketat, mulai dari peralatan pengisian yang terstandar hingga sarana pemadam kebakaran, penjual eceran kerap mengabaikan aspek tersebut. Bila api sudah membesar, situasi bisa sulit dikendalikan dan membahayakan pengendara, penjual, maupun warga di sekitarnya.

6. Takaran Tidak Sesuai

Bensin eceran umumnya dijual dalam botol kaca berukuran satu liter. Namun, proses penakarannya dilakukan secara manual tanpa alat ukur terstandar, sehingga volume bahan bakar di dalam botol tidak selalu tepat. Konsumen berpotensi membayar untuk satu liter, tetapi hanya menerima takaran yang lebih sedikit. Selisih tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi bisa terasa merugikan jika pembelian dilakukan berulang kali.

Meski mudah ditemui di berbagai sudut jalan, bensin eceran menyimpan sejumlah risiko, mulai dari kualitas yang tidak terjamin hingga takaran yang tidak akurat. Karena itu, pengendara disarankan mengisi bahan bakar di tempat yang dapat diandalkan, seperti SPBU Pertamina, yang pelayanannya diawasi dan menggunakan alat ukur yang terstandar.
 

(Erha Aprili Ramadhoni)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement