Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Laporan Anthropic: China Gunakan AI untuk Serang Pembangkang dan Diaspora

Rahman Asmardika , Jurnalis-Kamis, 17 September 2026 |14:28 WIB
Laporan Anthropic: China Gunakan AI untuk Serang Pembangkang dan Diaspora
llustrasi.
A
A
A

JAKARTA – Perusahaan peneliti dan keamanan kecerdasan buatan (AI) Anthropic merilis laporan intelijen ancaman paling rinci hingga saat ini pada 11 September 2026. Laporan tersebut mendokumentasikan bagaimana aktor negara maupun non-negara berupaya memanfaatkan model AI buatan Anthropic, Claude, sebagai senjata untuk serangan siber, operasi pengaruh, pengawasan, penyalahgunaan biologis, dan pengembangan senjata.

Salah satu temuan yang paling mengkhawatirkan adalah penyalahgunaan Claude secara sistematis oleh aktor berbasis di China yang berafiliasi dengan aparat keamanan, propaganda, dan urusan keagamaan Partai Komunis China (PKC). Operasi-operasi ini menargetkan para pembangkang, jurnalis, kelompok minoritas agama, dan komunitas diaspora di seluruh dunia.

Dilansir Bitter Winter, Kamis (17/9/2026), laporan tersebut menunjukkan bahwa AI telah menghapus kesenjangan tradisional antara operasi canggih yang didukung negara dan pelaku perorangan. Kemampuan ofensif yang dulunya memerlukan tim spesialis siber terlatih kini dapat dijalankan oleh individu menggunakan kunci API curian atau kerangka kerja multi-agen yang tersedia untuk umum. Anthropic mencatat bahwa "serangan canggih tidak lagi memerlukan penyerang yang canggih," dan bahwa rantai serangan (kill chains) berbasis AI telah menyebar luas di kalangan semua jenis aktor, termasuk unit spionase negara dengan China yang paling menonjol di antaranya.

Salah satu kelompok aktivitas paling serius melibatkan operasi intelijen urusan keagamaan yang berbasis di China, yang menargetkan para pemimpin Katolik, masyarakat sipil Buddha Tibet, praktisi Falun Gong, dan komunitas Kristen Taiwan. Para pelaku menggunakan Claude sebagai pengganti tim analis manusia dengan mengarahkannya untuk menyusun dokumen informasi berbahasa Mandarin, draf riset personel, laporan petunjuk investigasi, dan ringkasan kesadaran situasional harian. Target operasi tersebut mencerminkan secara persis prioritas birokrasi urusan keagamaan PKC dan Departemen Kerja Front Bersatu (United Front Work Department). Dalam satu kasus, seorang pengguna secara terbuka mengidentifikasi dirinya sebagai petugas keamanan informasi untuk negara China.

Para pelaku mengumpulkan tanggal lahir, tempat lahir, riwayat imigrasi, dan nama akun media sosial dari individu-individu tertentu. Mereka memetakan lokasi keagamaan, termasuk denah lantai dan diagram struktur bangunannya. Mereka menginstruksikan Claude untuk mengadopsi "sudut pandang China," melabeli pemerintahan Tibet di pengasingan sebagai "pemerintahan separatis ilegal," dan menerapkan sebutan "sekte sesat" terhadap Falun Gong. Cakupan kegiatannya meliputi WeChat, Xiaohongshu, Douyin, dan Weibo, serta LinkedIn, Instagram, Threads, X, dan Facebook. Siklus pelaporan harian tersebut menyerupai alur kerja kantor pemerintah internal.

 

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement