Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Marak Video AI dan Hoaks Pascabanjir, Nepal Minta Meta dan TikTok Ambil Tindakan

Rahman Asmardika , Jurnalis-Minggu, 30 Agustus 2026 |16:38 WIB
Marak Video AI dan Hoaks Pascabanjir, Nepal Minta Meta dan TikTok Ambil Tindakan
Banyak unggahan media sosial menampilkan kedahsyatan banjir yang melanda Nepal.
A
A
A

KATHMANDU — Nepal telah meminta Meta dan TikTok untuk menghapus gambar-gambar yang menampilkan konten grafis, video buatan AI, kode QR donasi palsu, serta unggahan menyesatkan yang beredar pascabanjir bandang dahsyat.

Menurut laporan The Kathmandu Post pada Jumat (28/8/2026), pejabat pemerintah telah mengadakan pertemuan dengan perwakilan platform media sosial tersebut yang berbasis di Nepal guna mendesak tindakan lebih cepat terhadap konten yang dapat menyesatkan publik, menghambat operasi bantuan, atau menambah penderitaan keluarga korban.

Bijay Kumar Roy, koordinator gugus tugas pemerintah untuk regulasi dan pengelolaan media sosial, menyatakan bahwa pihak berwenang meminta perusahaan-perusahaan tersebut untuk menghapus konten yang tidak pantas dan menyesatkan segera setelah konten itu ditandai.

Surat kabar tersebut melaporkan bahwa pihak berwenang juga mendesak platform-platform terkait untuk membuat algoritma mereka lebih proaktif dalam mendeteksi dan memblokir konten yang menampilkan gambar vulgar atau kekerasan serta informasi palsu.

Pihak berwenang menyatakan bahwa rekaman lama kembali disebarluaskan seolah-olah merupakan gambar dari bencana terkini, sementara video dan gambar hasil kecerdasan buatan (AI) ditampilkan sebagai konten asli. Selain itu, muncul pula kode QR palsu yang meminta sumbangan bagi para korban banjir.

Menurut laporan tersebut, Meta dan TikTok saat ini membutuhkan waktu antara 24 hingga 48 jam untuk menanggapi unggahan yang dilaporkan, sehingga mendorong pihak berwenang untuk menuntut tindakan yang lebih cepat.

Langkah ini diambil di tengah situasi di mana total korban jiwa akibat banjir di Nepal dan China telah mencapai 750 orang, sementara lebih dari 3.000 lainnya, termasuk 856 warga negara asing, masih dinyatakan hilang.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement