JAKARTA - Bulan Juni 2026 menyuguhkan pemandangan visual yang luar biasa bagi para pencinta astronomi. Sepanjang bulan ini, sejumlah fenomena langit siap menghiasi ruang malam, mulai dari konjungsi planet hingga kehadiran fase bulan purnama yang sangat dinantikan, yakni Strawberry Moon.
Sebagian besar fenomena langit ini bisa disaksikan langsung dengan mata telanjang jika kondisi cuaca cerah dan bebas dari polusi cahaya.
Berikut daftar peristiwa langit yang dapat diamati sepanjang Juni 2026, dirangkum dari sumber Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA):
Pada pekan pertama Juni, para pengamat langit dapat menyaksikan pemandangan konjungsi, yaitu peristiwa saat dua atau lebih benda langit terlihat berdekatan di kubah malam dari sudut pandang Bumi. Menurut data astronomi NASA, planet Mars dan Saturnus akan tampak berada dalam posisi yang sangat dekat dengan Bulan secara bergantian di ufuk timur sebelum matahari terbit. Fenomena ini menjadi momen terbaik bagi astrofotografer untuk mengabadikan formasi segaris (alignment) planet-planet tersebut.
Secara astronomis, BMKG mencatat bahwa titik balik matahari musim panas (Summer Solstice) untuk Belahan Bumi Utara atau Winter Solstice untuk Belahan Bumi Selatan akan terjadi pada tanggal 21 Juni. Bagi masyarakat yang tinggal di Belahan Bumi Utara, hari ini menandai siang terpanjang dalam setahun sekaligus awal musim panas secara astronomis. Sebaliknya, wilayah di Belahan Bumi Selatan akan mengalami malam yang paling panjang.
Puncak dari segala fenomena langit di bulan ini adalah kehadiran Strawberry Moon atau Purnama Stroberi. NASA menjelaskan bahwa penamaan ini tidak merujuk pada perubahan warna bulan menjadi merah cerah atau berbentuk seperti buah stroberi. Istilah tersebut berasal dari tradisi suku asli Amerika (Algonquin) yang menandai bulan purnama di bulan Juni sebagai waktu yang tepat untuk memanen stroberi liar yang mulai matang.
Saat mencapai fase puncaknya, Bulan akan berada pada posisi oposisi geometris terhadap matahari, sehingga seluruh permukaannya yang menghadap ke Bumi akan memantulkan cahaya matahari secara penuh. Fenomena ini membuat ukuran Bulan tampak sedikit lebih besar dan bersinar jauh lebih terang dari malam-malam biasanya.
Untuk mendapatkan pengalaman pengamatan yang maksimal, BMKG mengimbau masyarakat untuk mencari lokasi yang lapang dan minim penghalang seperti gedung tinggi atau pohon. Meskipun sebagian besar fenomena ini aman dilihat langsung dengan mata telanjang, penggunaan binokular atau teleskop kecil sangat disarankan jika Anda ingin melihat detail kawah Bulan dan cincin planet Saturnus secara lebih tajam.
(Rahman Asmardika)