Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ramai Belanja Online, Pakar Nilai Pedagang Pasar Belum Menerima Perubahan

Wiwie Heriyani , Jurnalis-Selasa, 10 Oktober 2023 |08:41 WIB
Ramai Belanja Online, Pakar Nilai Pedagang Pasar Belum Menerima Perubahan
Ilustrasi ecommerce. (Doc. Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Polemik TikTok Shop hingga berujung penutupan fitur layanan tersebut, disambut baik pedagang pasar Tanah Abang.

Namun, usai TikTok Shop ditutup, pedagang pasar Tanah Abang meminta kembali beberapa platform belanja online.

 BACA JUGA:

Para pedagang pasar Tanah Abang ini merasa dirugikan atas kehadiran penjualan online, karena menawarkan harga yang jauh lebih murah.

Melihat fenomena ini, pakar perencana keuangan, Bareyn Mochaddin, menilai para pedangan offline seperti para pedagang di pasar Tanah Abang masih belum menerima perubahan’. 

Bareyn menyebut di era kekinian, perilaku berjualan dan cara belanja masyarakat sudah cenderung berubah.

 BACA JUGA:

“Sepertinya, ada dua perubahan yang tidak disadari oleh teman-teman pedagang offline yang berteriak tutup toko online. Pertama, perubahan cara berjualan, dan kedua perubahan cara belanja masyarakat yang berubah,” ujar Bareyn, kepada MNC Portal, belum lama ini.

Bareyn menjelaskan, dalam hal ini, ada alasan mengapa para pedagang Pasar Tanah Abang merasa dirugikan dengan kehadiran platform belanja online seperti TikTok Shop, dan toko online.

Nah, kelihatannya teman-teman pedagang offline, khususnya yang berteriak untuk menutup toko online/ecommerce ini mengalami tiga hal,” ungkapnya.

“Pertama, terlambat mengantisipasi perubahan, kedua, keengganan menerima perubahan, dan yang ketiga, bisa juga karena tidak punya rencana bisnis dan analisa apa yang akan terjadi di depan,” lanjut Bareyn.

Karena itu, Bareyn mengungkapkan beberapa win-win solution agar para pedagang di pasar Tanah Abang atau para pedagang offline lainnya tidak lagi merasa dirugikan dengan kehadiran platform belanja online.

“Dalam hal ini, rasanya perlu tiga hal. Pertama, inisiatif dari para pedagang sendiri untuk upgrade skill dan pengetahuan agar tidak ketinggalan dengan kondisi terkini dan perubahan yang ada,” tuturnya.

Solusi selanjutnya yakni dengan peran Pemerintah melalui lembaga terkait untuk mengadakan pelatihan, agar para pedagang offline memiliki skill dan pengetahuan tentang kondisi terkini.

“Lalu, dibuat regulasi adanya transfer knowledge dan bimbingan dari perusahaan ecommerce yang menjembatani pedagang offline dengan dunia digital,” katanya.

Kemudian yang ketiga, peran organisasi/asosiasi yang berhubungan dengan pedagang, "untuk bisa membimbing para pedagang menghadapi perubahan,” tandas Bareyn.

(Maruf El Rumi)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement