Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Hari Paling Mematikan dalam Sejarah Umat Manusia yang Tewaskan Hampir 1 Juta Orang

Martin Bagya Kertiyasa , Jurnalis-Jum'at, 07 Juli 2023 |18:19 WIB
Mengenal Hari Paling Mematikan dalam Sejarah Umat Manusia yang Tewaskan Hampir 1 Juta Orang
Ilustrasi Hari Paling Mematikan dalam Sejarah Umat Manusia. (Foto: UN/Emmanuel Santos)
A
A
A

DALAM sejarah manusia, memang terjadi beberapa masalah yang menyebabkan kematian massal, seperti yang baru-baru saja terjadi Covid-19. Kematian massal ini pun bukan hanya kali ini terjadi, tapi memang sudah beberapa kali.

Meskipun, tidak selalu kematian massal ini terjadi lantaran penyakit. Ada juga penyebab lainnya, seperti perang, senjata nuklir, polusi, penyebaran patogen mematikan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Meskipun sulit untuk mengatakan dengan pasti, menurut banyak orang, hari paling mematikan dalam sejarah manusia sebenarnya adalah hasil dari bencana alam. Pada pagi hari tanggal 23 Januari 1556, sebuah gempa besar mengguncang provinsi Shaanxi di China, yang pada saat itu dianggap sebagai tempat lahirnya peradaban China.

Gempa tersebut hanya berlangsung selama beberapa detik, tetapi diperkirakan telah menewaskan 100.000 orang secara langsung, diikuti oleh tanah longsor, lubang besar, kebakaran, migrasi, dan kelaparan yang menewaskan sekitar 830.000 orang.

Seperti dilansir dari Sciencealert, tentu saja total korban jiwa dari peristiwa besar itu tidaklah sebesar Perang Dunia I dan Perang Dunia II, atau bahkan pandemi, kelaparan, atau banjir.

Tetapi, ketika mempertimbangkan kehancuran yang terjadi dalam sehari, gempa Shaanxi, yang juga dikenal sebagai gempa Jiajing karena terjadi di bawah pemerintahan Kaisar Jiajing dari dinasti Ming, secara luas dianggap sebagai yang paling fatal yang kita ketahui. Itu juga terdaftar sebagai gempa paling mematikan yang tercatat dalam sejarah.

Peta Gempa

Gempa berkekuatan 8,0-8,3 tersebut memang besar, tapi bukanlah yang terbesar dalam sejarah. Pasalnya, ada beberapa gempa bumi yang lebih kuat telah terjadi baik sebelum maupun sesudahnya.

Hanya saja, karena geologi dan desain perkotaan daerah tersebut pada saat itu, menyebabkan kehancuran besar-besaran yang tidak proporsional ke kota-kota sekitar Huaxian, Weinan, dan Huayin. Sejarah Lokal, yang menurut History.com berasal dari tahun 1177 SM, menggambarkan kehancuran yang disebabkan oleh gempa dengan detail yang langka.

Kutipan terjemahan dari Annals mengklaim bahwa gunung dan sungai berpindah tempat. Tercatat bahwa retakan terbuka di tanah dengan kedalaman lebih dari 18 meter (60 kaki). Di Huaxian, setiap bangunan dilaporkan runtuh dan di dekat pusat gempa, sekitar 60 persen penduduk tewas.

Meskipun magnitudonya relatif rendah, gempa tersebut terdaftar sebagai XI (Ekstrim) pada Skala Intensitas Mercalli Modifikasi, yang mengukur intensitas atau goncangan gempa bumi. Lantas kenapa gempa tersebut begitu mematikan?

Pusat gempa terjadi di Lembah Sungai Wei yang secara geologis unik karena melintasi Dataran Tinggi Loess di Cina utara-tengah. Berada di bawah Gurun Gobi, dataran tinggi ini terbentuk dari loess, sedimen mirip lanau yang dibentuk oleh penumpukan debu yang tertiup angin yang terkikis dari gurun.

Dataran tinggi itu sekarang dikenal sering mengalami tanah longsor yang mematikan. Namun pada saat itu, banyak rumah yang dibangun langsung di atas tebing loess yang lunak, membuat gua buatan yang dikenal sebagai yaodong.

Saat gempa terjadi pada dini hari, banyak dari yaodong itu runtuh, mengubur apa yang ada di sekitarnya dan menyebabkan tanah longsor yang menyebar ke seluruh dataran tinggi. Bukan hanya yaodong, tetapi banyak bangunan di kota-kota yang terbuat dari batu berat pada saat itu, yang menyebabkan banyak kerusakan saat runtuh.

Ada tiga jalur patahan utama yang melintasi area tersebut: patahan Huashan Utara, patahan Piedmont, dan patahan Weihe. Sebuah analisis geologi tahun 1998 dari gempa tahun 1556 menyimpulkan bahwa patahan Huashan Utara memainkan peran penting dalam peristiwa tersebut, karena skala dan perpindahannya adalah yang terbesar di wilayah studi.

“Kita perlu mempertimbangkan potensi patahan aktif, dan bersiap untuk kemungkinan gempa besar lainnya di wilayah tersebut, karena patahan aktif sekarang,” jelas para peneliti dari Universitas Peking menyimpulkan.

Menurut History.com, dari gempa Shaanxi pun para ilmuwan belajar mencari penyebab gempa bumi, dan cara untuk meminimalkan kerusakan di masa depan yang disebabkan oleh bencana semacam itu. Bangunan batu pun diganti dengan bahan yang lebih lembut dan tahan gempa, seperti bambu dan kayu.

Saat umat manusia semakin dekat dengan bencana ekologis dan antropogenik baru, akan lebih baik jika tidak berpikir hal itu akan disebabkan oleh kita para manusia, tapi karena planet yang kita huni.

(Martin Bagya Kertiyasa)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement