ILMUWAN menemukan adanya gelombang otak khusus padgurita, yang tidak ditemukan di hewan lain. Bahkan, gelombang otak tersebut malah lebih mirip dengan gelombang otak manusia.
Penelitian terbaru menangkap rekaman otak pertama dari gurita yang bergerak bebas, dilakukan dengan menanamkan elektroda di otak hewan dan menghubungkannya ke pencatat data di bawah kulit mereka.
Para peneliti menerbitkan temuan mereka pada 27 Maret di jurnal Cell dengan hasil menunjukan bahwa rekaman telah memberi para ilmuwan firasat pertama tentang cara kerja pikiran cephalopoda tersebut.
"Beberapa dari pola aktivitas ini memiliki kemiripan dengan pola aktivitas yang diamati di hippocampus mamalia, juga pusat memori," kata penulis pertama Tamar Gutnick, seorang ilmuwan tamu di University of Naples.
"Tapi kami juga mengamati pola unik, aktivitas 2Hz, yang tidak pernah dilaporkan pada hewan lain," lanjutnya.
Dikatakan, gurita telah menjadi daya tarik di kalangan ahli biologi sejak abad ketiga Masehi, ketika penulis dan naturalis Romawi, Claidius Aelianus, mencatat karakteristik "kenakalan dan kerajinan" mereka yang terlihat jelas.
Gurita dan cephalopoda lainnya telah lama dipelajari karena kecerdasannya. Hewan-hewan itu memiliki ingatan yang luar biasa, unggul dalam kamuflase, ingin tahu tentang lingkungan mereka, dan dianggap bisa bermimpi.
Untuk mengetahui bahwa gelombang otak gurita mirip dengan manusia, para peneliti memasukkan alat pelacak medis ke dalam kepala tiga gurita. Alat kemudian disambungkan ke elektroda yang dimasukkan ke wilayah otak gurita yang bertanggung jawab untuk belajar dan mengingat.
Para ilmuwan kemudian merekam gurita selama 12 jam saat makhluk itu tidur, merawat diri, dan menjelajahi tangki mereka. Pola gelombang otak yang terekam lantas mengejutkan para ilmuwan dalam beberapa cara.
Pertama-tama, para peneliti menemukan gelombang otak yang sangat mirip dengan yang ditemukan di hippocampus manusia. Ini mengisyaratkan evolusi neurologis yang konvergen.
Bersamaan dengan gelombang otak yang lebih familiar, para peneliti juga menemukan gelombang yang belum pernah mereka lihat sebelumnya dalam rekaman tahan lama dan lambat.
Para ilmuwan tidak yakin untuk apa gelombang otak misterius ini digunakan, dan itu akan membutuhkan lebih banyak rekaman sementara gurita menyelesaikan serangkaian tugas untuk memetakannya sepenuhnya, kata para peneliti.
(Martin Bagya Kertiyasa)